#Maluku dalam karya @aanmansyur: Semacam cinta dan kesaksian

Aan Mansyur
Saya akhirnya bertemu Aan Mansyur yang di bicarakan itu. Kami mengobrol banyak dan tentu saya lebih banyak mendengar. Laki-laki sederhana yang karya-karyanya tidak biasa itu berbagi banyak hal, menjawab bertubi-tubi pertanyaan “acak” saya dengan lebih banyak cerita tentang dirinya sendiri; tentang bagaimana dirinya berkarya. Aan menyampaikan kecemasan (ini kata saya. Saya anggap Aan Cemas) dengan minimnya sastrawan/penyair muda dari timur Indonesia. Berulang kali Aan menyampaikan rasa cintanya pada kota Ambon, Maluku tempat lahir sekaligus tempat tinggal saya. Aan bilang “kamu bisa menulis keindahan yang ada disana” dan laki-laki itu telah memulainya jauh sebelum kalimat tersebut di sampaikan pada saya.

Ini adalah postingan yang mer-repost enam puisi  Aan Mansyur dari perjalanannya mengelilingi kepulauan Maluku yang saya percaya bisa jadi cambuk serta penyemangat sasatrawan Muda Maluku . Tentang perjumpaan bersama Aan mungkin akan saya ceritakan lebih panjang suatu hari nanti. Intinya saya bersyukur telah bertemu, bertatap-tatapan dan lebih dari itu bisa saling berpelukan (berkali-kali). Semoga ide dan keinginan kita bisa segera terwujud. Aan terima kasih :)  

Becak = Sebuah Gengsi

Becak di Ambon
Bagi mereka yang melancong ke Ambon sempat-sempatkanlah untuk berkendara menggunakan becak keliling kota. Becak di Ambon pada dasarnya sama seperti becak pada umumnya yang terdapat di kota-kota lain, beroda tiga dan di gerakan oleh tenaga manusia. yang membedakan becak di Ambon dengan becak-becak yang berada di tempat-tempat lain adalah gengsinya.

Anak Bantar Gebang Bisa Menang #17an


karna semua anak Indonesia punya hak yang sama untuk belajar dan jadi pandai

Di suatu malam yang absurd di sebuah trotoar denagn dua gelas kopi sebagai teman, saya dan Bhagavad Sambadha bertukar cerita, obrolan “sok tahu” tapi tidak “sok penting” karena apa yang kami obrolkan memang adalah sesuatu yang kami yajini penting (sampai disini maaf kalo beneran “sok tahu” yaa). kami mengobrol tentang belum meratanya pembangunan-tentang dampak pembangunan yang belum bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat baik dipandang dari klasifikasi sosial ekonomi maupun hal-hal teknis seperti luasnya wilayah yang mengakibatkan terbatasnya jangkauan dan dari semua semua sektor pembangunan yang masih terlambat tersebut pendidikan adalah sektor yang sangat disayangkan.

JAS MERAH


Presiden Soekarno pernah bilang "Jangan Melupakan Sejarah". Semangat yang kemudian di kenal dengan semangat Jas Merah ini sungguh menjadi sebuah nilai yang harus terus di amalkan. Apa jadinya anak bangsa yang katanya besar tapi tidak memahami sejarah bangsanya sendiri. Memahami sejarah perjalan bangsa akan membuat setiap orang memiliki alasan logis mengapa di a "harus" mencintai bangsa dan negaranya bukan cuma sekedar omdo alias omong doang. 

Sekarang Waktunya Semangat "Orang Muda"




"perjuangan dulu di lakukan dengan fisik, dengan air mata dan darah. setelah merdeka generasi muda hari ini hanya perlu melanjutkan perjuangan tersebut dengan tekun belajar dan berkarya hal-hal yang positif"


Kutipan diatas jelas bukan kutipan yang asing, setidaknya ketika jaman  SD dulu kita pasti sering mendengar guru-guru kita selalu menyampaikan kutipan tersebut. sederhana tapi bermakna dalam, begitu kurang lebih kesan yang akan timbul bila kutipan tersebut dihayati dengan sunguh-sungguh. tugas generasi muda memang tidak seberat pendahulu-pendahulu, pejuang-pejuang yang memenangkan kemerdekaan dengan darah dan air mata tapi kondisi tersebut juga bukan tanpa tantangan. kalau dulu musuh kita penjajah, sungguh saat ini musuh kita adalah anak bangsa sendiri, mereka-mereka yang cenderung apatis atau tidak memiliki rasa nasionalisme.

Generasi Manja (ayo) Melek Politik

“yang bilang gitu adalah generasi muda yang manja. generasi sekarang memang sukanya yang instan-instan aja”

Tanpa terasa program TV Provocative Proactive yang di tayangkan di Metro TV telah menginjak usia satu tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk sebuah program TV mingguan yang di garap secara professional oleh Panji Pragiwaksono dkk. Sepanjang satu tahun perjalanannya Provocative Proactive tentulah telah melewati berbagai proses kreatif yang mematangkan konsep dasar program tersebut yang kurang lebih dalam pemahaman saya di arahkan untuk menjadi salah satu corong untuk menyuarakan kebenaran serta ajang edukasi politik publik khususnya di kalangan anak muda.

Masih dekat rasanya dalam ingatan gemuruh sambutan yang luar biasa ketika program obrolan ringan dengan celetukan-celetukan cerdas nan pedas tersebut pertama kali disiarkan tertanggal 31 Juli 2010. Kesuksesan tersebut terbukti dengan tercatatnya jumlah follower twitter @ProvocActive yang di buat hari itu juga mencapai angka 5000-an dan berhasil menjadi Tranding Topic dengan label “One of Indonesian brilliant TV Show on Metro TV”. Lewat informasi yang menggelembung di twitter seminggu sebelumnya sayapun menjadi orang yang ikut menantikan program yang kalau tidak salah ingat di kesempatan pertama tersebut menghadirkan Togar Sianipar dan tentu saja menjadi salah satu follower twitternya pada saat itu juga.  

Ramadhan, meja makan dan kenangan

Bedug di tabuh, adzan magrib berkumandang menandakan waktu berbuka telah tiba. Di meja makan ibu menyajikan hidangan berbuka seadanya sesuai selera keluarga. Bapak adalah seorang pecinta kolak singkong sehingga telah terjadwalkan sekian tahun dalam ingatan saya bahwa buka puasa di hari pertama dalam keluarga kami pastilah akan diisi dengan kolak berkuah coklat kental tersebut baru kemudian digilir dengan menu selanjutnya sesuai kegemaran kami.

Selain sebagai bulan yang mengembirakan dimana amal ibadah di lipat gandakan dan momengtum penyucian diri dengan menahan segala amarah ramadhan bagi saya juga adalah bulan di mana meja makan kembali mengambil peran dalam keluarga kami dan kenangan adalah menu utama akan yang menguap di antara pekerjaan mengisi perut ketika berbuka. Sebagai keluarga yang tidak memiliki budaya makan satu meja di hari-hari biasa, berbuka puasa merupakan sebuah moment yang memiliki kesan luar biasa dimana kami (saya, bapak, ibu dan adik perempuan) akan duduk mengelilingi meja yang sama dan menyantap makanan dalam waktu bersamaan.

“ kalo buka puasa begini bapak pasti ingat kakak. Dia yang selalu menunggu bapak pulang dan mengambil kantong berisi kue lalu tidak lupa bertanya apakah bapak membeli tart kentang pesanannya atau tidak “ bapak membuka suara pertamanya setelah lama kami terdiam menyantap makanan masing-masing

“ iya… kakak suka skali tart kentang “ adik perempuan saya mengiyakan setelah detik sebelumnya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.

Saya menatap ibu, menunggu komentarnya. Sebagai layaknya seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan beliaulah orang yang paling terpukul dan merasa kehilangan anak tertuanya—kakak perempuan saya yang berpulang lebih dulu di panggil sang maha kuasa. Peristiwa 8 tahun silam tersebut memang telah mampu di ikhlaskannya namun di mata saya ibu tetap adalah orang yang mampu memberi kalimat-kalimat emosional perihal segala yang dirasakannya terlebih-lebih di waktu-waktu kebersamaan seperti ini.

Senja Merah


Tidak ada lagi yang lebih indah setelah kusaksikan senja merah merekah dimatamu
Tidak ada lagi sesudah itu

Didepan pagar rumahmu kubawakan puisi
Syair cemas apa kita akan bertemu kembali
Melawati satu hari bersama tanpa pernah bertanya kapan hari ini akan usai
Lalu kita tak akan berpisah lagi

Aku melihat temanku, kesendirianku memanggil-manggil
Tapi aku masih tidak peduli padahal hujan sudah membuatku menggigil

Aku basah tak berdaya dihadapanmu
Dibalik tirai kulihat mukamu cemberut ingin menggerutu
Angin membawa pesanmu padaku dengan kaku
Katamu kau tak ingin berpisah walau sudah harus jadi begitu

Tidak ada lagi yang lebih indah setelah bersamamu sepanjang hari
Tidak ada lagi setelah kau pergi

Diujung jalan aku membawa serta air mata
Mengumandangkan orasi perpisahan yang kudengar sendiri saja
Pelan-pelan kuucap pesan keramat; jaga baik-baik hatimu disana
Semoga bisa cepat kita berjumpa

Aku melihat hidupku, kesendirianku tersenyum gilang gemilang penuh kemenangan
Tapi aku masih tidak peduli karena kutahu dirimu mencintaku bukan kepalang

Aku berada disini, tempat semestinya kita ada
Dipesisir tempat kita jatuh diatas pasir dan meminang buta
Matahari tergelincir berganti bulan yang tidak akan berubah rupanya meski dirimu tiada
Kataku kau adalah alasan untukku bersuka cita tanpa takut menjadi tua dan pelupa

       Tiada lagi setelah senja merah itu merekah dimatamu.
       Hatiku mati padamu setelah itu

Sebuah Catatan dari #SerdaduKumbang

Tadi sore akhirnya saya menonton Serdadu Kumbang, film yang saya terima sebagai satu lagi film Indonesia yang berkualitas. Film ke-5 Alenia Pictures ini bagi saya mengesankan karena selain seperti biasa berangkat dari realitas sosial, mengusung nilai-nilai budaya dan menjadikan pendidikan sebagai salah satu muatan utama, film berlatar kehidupan masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini adalah film yang menguras emosi, penonton kerap diajak tertawa terbahak-bahak mengapresiasi bagian-bagian konyol sekaligus juga mengikis rasa simpati yang tidak kurang bisa berujung dengan air mata.

Sejak awal saya memang sudah terkesima dengan film besutan Ari Sihasale tersebut. Padang ilalang, anak laki-laki berkuda, juga pohon besar dengan latar langit dan pegunungan di bagian awal film tersebut seketika mengembalikan ingatan saya pada film Denias, Senandung Negeri di Atas Awan, yang juga kurang lebih menghadirkan keindahan yang sama. Apa beda Papua dan Sumbawa? Keduanya sama indah, keduanya sama istimewa, keduanya sama Indonesia, dan terlebih keduanya memiliki realitas sosial yang sama tertinggalnya setidaknya dari frame kedua film tersebut. Maka begitulah kemudian bagi saya Papua dan Sumbawa tidak ada bedanya.

Ame, Acan, dan Umbe, tiga sekawan dalam cerita Serdadu Kumbang bagi saya adalah satu lagi cerminan yang merefleksikan kehidupan anak Indonesia di daerah yang menghadapi realitas kehidupan serba berkekurangan ketika impian, cita-cita, dan harapan adalah pedoman hidup untuk terus melangkah maju menghadapi segala persoalan yang ada. Jauh dari sarana prasarana pemenuhan kebutuhan hidup memanglah adalah sebuah tantangan terlebih lagi ketika didekatkan pada realitas betapa majunya dunia hari ini dengan segala kecanggihannya. Namun bercermin dari pengalaman dan apa yang ada, saya percaya bahwa sarana prasarana bukanlah satu-satunya faktor utama untuk mencapai keberhasilan, karena sesungguhnya ketiga faktor penggerak daya hidup yang telah saya sebutkan sebelumnya di ataslah yang memiliki kekuatan lebih di hidup manusia. Ada banyak anak petani jadi pembesar di bangsa ini, ada banyak anak kampung jadi petinggi di kota, dan banyak lagi contoh lain yang bisa lebih spesifik sehingga keyakinan bahwa akan selalu ada takdir baik untuk mereka yang berusaha terlebih-lebih di tengah kesulitan adalah benar, saya menemukan penegasan terhadap hal tersebut di dalam Serdadu Kumbang.

Pattimura (Tidak) Butuh Starbucks



Ini adalah postingan balasan untuk “Starbucks UI” yang diposting oleh Arnellis beberapa hari yang lalu. Di postingannya tersebut kawan saya menulis tentang kegamangannya menyaksikan kehadiran sebuah gerai kopi internasional dengan tulisan hijau menyala “Starbucks Coffee” yang menempel layaknya parasit di bangunan baru Perpustakan Pusat Universitas Indonesia yang konon katanya adalah perpustakaan terbesar Se-Asia Tenggara.  

Dalam postingannya tersebut, Arnellis mengutip pernyataan saya betapa Universitas Indonesia seharusnya menyandang berat beban persoalan bangsa hari ini, khususnya di bidang  pendidikan yang hingga kini masih saja jauh dari harapan masyarakat. Keharusan ini bagi saya lahir dari konsekuensi Universitas Indonesia yang menggunakan “Indonesia” sebagai nama yang dengan sendirinya menjadi semacam legitimasi atas keseluruhan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Lepas dari latar belakang sejarah bahwa kampus biru tersebut adalah universitas pertama di Indonesia dan berkedudukan di ibu kota negara sehingga memperoleh penamaan eksklusif tersebut, identitasnya tetaplah perlu diperbaharui agar mampu menjawab realitas sosial kekinian.

Pandji Pragiwaksono di Ruma Beta bulan ini.


katakatakusampan

Malam berubah menjadi dingin
Menyekap tiap inci tubuh yang masih mau mengelak
Aku telah berdusta
Lemah ini harusnya aku ucap

Berpisah denganmu adalah sengsara,
berjarak darimu seperti tak berdaya,
berjauh darimu lebih dari celaka
Aku telah berdusta dengan luar biasa

Di muka pintu aku tabur ajimat,
di depan kaca aku ucap mantra
Tapi semua hanyalah pura-pura,
aku tak lebih dari pembohong besar

Manisku sayang
Di manapun kini mimpi membawamu berlayar dan jarak kita milyaran jumlahnya,
aku yakin kau merasa
Aku merindu

Rindu sudah jadi lautan
dan malam dan dingin tak lagi mampu menahan
Aku ingin berlayar,
mengayuh sampan menuju rumahmu

Manisku sayang sudah aku mengayuh,
sudah jauh bertaruh di lautan.
Dua kali aku tersapu badai tapi aku masih bisa bangun lagi.
Bila pagi tiba, aku ingin ada di pelukmu.

Kata-kataku adalah sampan.
Tiba di matamu, terbaca olehmu dan simpanlah sehari penuh.
Tanpa dusta, bukan untuk jadi ajimat apalagi mantra
Tapi untuk sabar menunggu tiba waktu bersama. Sebenarnya.

---
Ambon, Juni 2011