Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Agus Noor : tentang Konser Cinta #BETAMALUKU
Diposting oleh
iphank dewe
on Rabu, 11 Mei 2011
Ini adalah rangkuman twit @agus_noor tentang Pertunjukan Musikal
#BETAMALUKU sebagai rangkaian dari pentas
#IndonesiaKita 27 – 28 Mei 2011 di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Ketika Sejarah “Harus” Digugat
Diposting oleh
iphank dewe
on Sabtu, 09 April 2011
Label:
Ambon Bergerak,
Catatan,
Event,
HAM. Komnas Perempuan,
Komunisme,
PKI,
Pluntungan,
Sejarah
/
Comments: (2)
![]() |
| Pluntungan |
“ Apa yang terjadi di
tahun 65 itu tidak seperti yang diberitakan oleh media atau yang tercatat dalam
sejarah “ – Suci Danarti (Eks - Tapol Kamp Pluntungan)
---
Sejarah konon adalah milik penguasa atau dalam istilah popular
di masyarakat “ sejarah adalah milik pemenang ”. diskusi – diskusi tentang
sejarah dan perdebatan yang ada didalamnya menurut saya sepertinya tidak akan
pernanh selesai karena sejarah adalah sebuah produk yang diciptakan untuk
kepentingan tertentu, subjektif dan memiliki aturan – aturan prosedural dalam
proses penciptaannya layaknya sebuah produk pada umumnya.
Sejarah bagi saya perlu dibagi menjadi dua kerangka besar,
yang pertama adalah sejarah sebagai sebuah peristiwa otentik yang tidak bisa dibantah
oleh siapapun dan atas dasar apapun dan yang kedua adalah sejarah yang
diciptakan atas kepentingan tersebut. Sejarah dalam kerangka yang kedua adalah
alat legitimasi kekuasaan dibuat untuk menguatkan kekuatan tertentu dan
sebaliknya melemahkan kekuatan yang lain.
Film Plantungan diputar di Ambon sore tadi, sebuah film yang
wajib ditonton oleh siapapun yang menaruh hati dan perhatian terhadap sejarah
bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, sejarah perjalanan bangsa ini sudah
seharusnya menjadi landasan penting dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara yang sayangnya hari ini tidak begitu lagi menjadi perhatian karena cenderung
berkabut dan kontroversial. Sebuah idiom keren yang dilontarkan oleh teman saya
bahwa sesuatu yang kontroversial itu akan selalu menarik menjadi dasar mengapa
saya begitu tertarik mengenai isu rekonstruksi sejarah yang dilakukan untuk
meluruskan kembali sejarah Indonesia yang sudah sejak lama terbukti
dipolitisir. Tapi apakah idiom tersebut juga berlaku dalam kajian sejarah bagi
kebanyakan orang ? jawabannya saya sendiri tidak begitu meyakininya.
Plantungan, PKI dan
Gerwani
Produk sejarah adalah produk teror massa, sebuah produk yang dibuat
untuk menciptakan mindset berfikir orang
banyak atas sebuah kejadian—peristiwa atau diri orang per orang. Sejarah sebagai
sebagai rekaman fakta peristiwa dan kejadian telah menyembunyikan banyak hal
dan membentuk konsepsi pemikiran tertentu atas sebuah fakta yang sebenarnya
harus bias diterima secara valid sesuai dengan fakta yang sebenarnya dengan
tidak didasarkan pada kebutuhan akan perspektif tertentu sehingga membatasi,
mengurangi bahkan menghilangkan fakta yang sebenarnya.
Film Plantungan menambah lagi daftar panjang gugatan fakta
peristiwa terhadap catatan sejarah. Film dokumenter berlatar Indonesia tahun 65
yang berisi kesaksian para bekas tahanan politik perempuan yang menghuni Kamp
Pembuangan Plantungan di Kendal, Jawa Tengah tersebut memaparkan banyak fakta
yang tentu saja selama ini tidak dimunculkan dalam catatan sejarah.
Kutipan Suci Danarti di awal tulisan ini adalah semacam inti dari
film Pluntungan yang memaparkan fakta sejarah yang selama ini sengaja
dibengkokkan dan disebunyikan. ada semacam kesalahan berpikir masyarakat mengenai
peristiwa – peristiwa yang terjadi disekitar tahun 65 dan keadaan tersebut
dikarenakan penciptaan perspektif oleh sejarah.
“ Saya ditangkap selama 14 tahun tanpa peradilan “
begitu penuturan Sp Tien Wartini. Kekerasan yang terjadi terhadap para Tapol
perempuan yang adalah motor gerakan Gerwani tersebut tidak hanya dalam bentuk
penangkapan yang semena – mena dan penghukuman tanpa proses peradilan tetapi
juga secara fisik berupa pemerkosaan dan bentuk eksploitasi seksual yang bukan
hanya terjadi bagi para penghuni kamp tersebut tetapi juga untuk para keluarga
mereka. “ untuk menemukan gambar palu dan arit, perempuan – perempuan dibugili
dan dipermainkan sesuka hati para petugas “ lanjutnya.
Sungguh sesuatu yang mengerikan
menggambarkan kondisi Kamp Plantungan dan isolasi yang dilakukan terhadap para
perempuan “terhormat” ini. Kamp Plantungan sebelum di jadikan Kamp pembuangan
tapol pada tahun 1970 adalah sebuah tempat isolasi bagi penderita kusta, berada
dihutan belantara dan sangat tidak manusiawi untuk dijadikan tempat tinggal
bahkan untuk Tapol sekalipun namun begitulah kenyataan yang sebenarnya dan
selama ini hilang dalam catatan informasi sejarah yang bias diakses oleh publik.
Negara menyembunyikan borok ini tapi kini baunya telah tercium dan melebar
kemana – mana.
Sebagai seorang anak yang
mengkonsumsi “sejarah nasional” di bangku pendidikan formal kini saya memiliki
kesadaran kritis bahwa selama ini saya telah tertipu atau dibuat sengaja tidak
mengetahui bagian – bagian penting yang seharusnya menjadi alasan penting nasionalisme
saya betapa bangsa dan Negara ini lahir dan tumbuh dalam sebuah gejolak konflik
yang harus dipelajari untuk tidak lagi terulang. Kesadaran tersebut lahir dari
sebuah proses pencarian, perenungan dan penemuan bukan dari klarifikasi sejarah
yang dilakukan oleh mereka yang memiliki wewenang.
PKI adalah musuh Negara,
bersinggungan dengan PKI adalah kejahatan dan Gerwani adalah kumpulan perempuan
– perempuan “tidak benar” adalah konstruksi sejarah yang setidaknya saya sadari
berada didalam diri saya ketika masih berada di bangku pendidikan formal lewat
bacaan dan fil Gestapu yang dulunya sering diputar untuk mendoktrinisasi
pikiran kita akan keberadaan musuh – musuh Negara tersebut yang ternyata
kenyataannya sama sekali tidak benar dan perlu mendapatkan pembenaran fakta
dalam catatan sejarah yang bahwa didalam polemic tata Negara saat itu keduanya
dianggap mengancam keamanan Negara sejarah tidak seharusnya menipu.
Mari mulai Bicara Kebenaran
Generasi muda Indonesia sebagai
pemegang tongkat estafet perjalan bangsa hari ini harus mulai “peduli” dengan
sejarah setidaknya sebagaimana saya sampaikan sebelumnya untuk dijadikan alas
an mencintai dan hidup mati – matian membela bangsa dan Negara ini. Generasi muda
hari ini harus mulai mendekatkan diri dengan kebenaran yang bila tidak
disajikan secara logis harus ditelusuri keberadaannya.
Plantungan adalah satu dari
sekian banyak situs sejarah yang terselubung dan untuk membuka banyak bagian
lain yang akan menggemparkan kesadaran semu kita mulailah dengan tidak membaca
sejarah dalam tafsir penguasa saja tapi juga dari mata sejarah yang sebenarnya.
---
*film plantungan adalah film yang
dibuat oleh komnas perempuan dan dilaunching 10 Februari lalu. Sebuah film yang
baik untuk menjadi konsumsi bangsa kita hari ini. Semoga kita selalu
tercerahkan setidaknya dengan membaca kembali lembah Plantungan dan semoga tuhan juga senantiasa memaafkan mereka para “penipu” sejarah. Amin
Lini Mas(s)a dan Cinta Satu Malam untuk Donny Bu
Diposting oleh
iphank dewe
on Jumat, 08 April 2011
Label:
Ambon Bergerak,
Ambon Manise,
Arumbai Blogger,
Blogger Maluku,
Catatan,
Donny Bu,
Event,
Internet Sehat,
Lini Mas(s)a
/
Comments: (0)
![]() |
| diunggah dari http://donnybu.com/ |
Duduk kita beratap
langit dan tanpa beralaskan apa – apa. Suasana seperti ini adalah suasana pertama bagi saya sejak
menghantarkan film lini mas(s)a diputar diberbagai daerah. Saya suka suasana
seperti ini, saya suka kota ini – Donny Bu
---
Dadakan didaulat menjadi moderator pemutaran film lini mas(s)a di Ambon malam tadi membuat saya belajar banyak hal dari seorang inspirasional bernama Donny Bu, sebagai seorang pemula di dunia social media professional yang berusaha memaksimalkan potensi social media dan menggunakannya sebagai alat untuk membangun sekaligus menggerakan gerakan sosial membuat saya merasa tercerahkan lewat kalimat – kalimat sederhana yang diselingi tawa renyahnya.
Lini Mas(s)a adalah film yang dibuat atas dasar kecemasan
untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia akan sebuah “palu” besar yang menancapkan kembali “alas
tongkak” semangat yang kokoh untuk melakukan perubahan menuju tata kehidupan
masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan penjelasan produser film dokumenter yang
memetakan gerakan masyarakat melalui social media di Indonesia setidaknya dalam
kurun waktu beberapa tahun ini atas pertanyaan sederhana saya mengapa film
tersebut dibuat saya meletakan pemahaman saya bahwa film tersebut dibuat untuk
mendokumentasikan Indonesia, mendokumentasikan masyarakat Indonesia dalam
bentuk lain selain yang ada di media – media mainstream.
Donny Bu mengaku jatuh cinta dan terkagum – kagum dengan
kota Ambon, dengan laut, dengan makanan, dengan segala potensi yang dimiliki
daerah ini dan sebagai seseorang yang sering diposisikan sebagai tour guide pernyataan seperti itu tentu
bukan barang baru lagi ditelinga saya mengingat sudah terlalu banyak
orang yang mengatakan jatuh cinta pada kota kecil dengan pesona alam yang luar
biasa ini. Tapi pernyataan tersebut tidak selesai sampai disitu, Donny Bu
mengkritik dan memberi masukan besar kepada pengguna internet (social media) di
kota Ambon untuk bisa memberikan informasi tentang keberadaan Ambon kepada
dunia luar “ saya merasa kekurangan informasi akan tempat ini dan sudah menjadi
kewajiban setiap pengguna social media untuk mendorong terbukanya akses
informasi agar orang lain juga bisa tahu tentang potensi yang ada disini. Dari tadi
saya foto – foto dan upload terus, banyak yang komen dan pengen datang untuk tahu
lebih banyak tentang Ambon “ jelasnya.
Jakarta versus Daerah
Apa yang disampaikan Donny Bu tersebut pada dasarnya
bukanlah sesuatu yang baru pertama kali diwacanakan di kalangan penggiat social
media di Ambon karena setidaknya dalam beberapa kali kopdar atau kegiatan –
kegiatan berbasis social media isu tentang terbatasnya informasi mengenai Ambon
tersebut telah disampaikan. Namun sebagai sesuatu yang baru, apa yang
disampaikan oleh Donny Bu tersebut setidaknya dapat dikatakan sebagai hantaman
besar yang menguatkan barisan optimism bahwa sudah saatnya kesadaran tersebut
tumbuh dan berkembang menjadi satu kekuatan besar yang mendorong kemajuan di
daerah.
Dalam diskusi yang yang saya pimpin terjadi kekisruhan
(begitu menurut saya) ketika seorang
penanya melontarkan pertanyaan dengan sebelumnya menyebut Donny BU sebagai
perwakilan bogger pusat atau blogger Jakarta “ saya sejujurnya tidak suka
diminta duduk disini, saya senang untuk memposisikan diri sebagai pengantar rol
saja. Perlu dipahami bahwa sejujurnya tidak ada yang namanya blogger pusat atau
blogger Jakarta, semuanya sama yang membedakan hanyalah Jakarta adalah ibu kota
dimana akhirnya orang – orang yang ada disana didekatkan dengan akses, gaya
hidup modern serta keberadaan selebriti yang menjadi public figuir dan menyita
banyak perhatian termasuk di social media tapi untuk soal gerakan saya lebih
mengacungkan jempol untuk teman – teman yang ada di daerah. Pergerakannya lebih
ideal dan menyentuh langsung problematika masyarakatnya “ tandas Donny Bu.
Bangun Gerakan Pro - Rakyat
Gerakan yang dibangun di social media idealnya adalah
gerakan yang didekatkan pada realitas kehidupan masyarakat. Sampaikan apa yang
menjadi kebutuhan mereka, perhatikan realitas kehidupan masyarakat untuk
menggalang sebuah gerakan yang massif. Bagi saya ini adalah bagian sangat
inspiratif betapa bagi seorang Donny Bu membangun gerakan lewat social media
adalah bentuk simpati bagi bangsa dan Negara.
Donny Bu juga bercerita tentang latar belakang berdirinya
ICTwatch dan bagaimana dirinya yang meninggalkan kursi emouknya di Detik.Com
yang sebagai portal berita terbesar di Indonesia telah memberinya segala yang
dibutuhkannya demi untuk memenuhi keterpanggilan hatinya untuk menulis dam
dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
---
Terima kasih untuk film Lini Mas(s)a dan cinta satu malam dari Mas Donny Bu, bukan
karena ada lagu itu ditengah – tengah diskusi tapi karena ceritanya membuat
saya sebagai orang muda jatuh cinta dasemakin percaya masih banyak orang peduli dan mau
berdedikasi untuk bangsa ini dengan selalu berfikir lalu berbuat. Idealisme manusia
bebas merdeka masih hidup dan tersebar dimana – mana untuk saling menguatkan. Selamat
hari jadi untuk Maluku Blogger. Maju terus dengan berbuat. Sampai jumpa di
seminar internet sehat besok :)




