Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Pandji Pragiwaksono di Ruma Beta bulan ini.


Agus Noor : tentang Konser Cinta #BETAMALUKU

Ini adalah rangkuman twit @agus_noor tentang Pertunjukan Musikal #BETAMALUKU sebagai rangkaian dari pentas #IndonesiaKita 27 – 28 Mei 2011 di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki,  Jakarta.


Ketika Sejarah “Harus” Digugat

Pluntungan
“ Apa yang terjadi di tahun 65 itu tidak seperti yang diberitakan oleh media atau yang tercatat dalam sejarah “ – Suci Danarti (Eks - Tapol Kamp Pluntungan)

---
Sejarah konon adalah milik penguasa atau dalam istilah popular di masyarakat “ sejarah adalah milik pemenang ”. diskusi – diskusi tentang sejarah dan perdebatan yang ada didalamnya menurut saya sepertinya tidak akan pernanh selesai karena sejarah adalah sebuah produk yang diciptakan untuk kepentingan tertentu, subjektif dan memiliki aturan – aturan prosedural dalam proses penciptaannya layaknya sebuah produk pada umumnya.

Sejarah bagi saya perlu dibagi menjadi dua kerangka besar, yang pertama adalah sejarah sebagai sebuah peristiwa otentik yang tidak bisa dibantah oleh siapapun dan atas dasar apapun dan yang kedua adalah sejarah yang diciptakan atas kepentingan tersebut. Sejarah dalam kerangka yang kedua adalah alat legitimasi kekuasaan dibuat untuk menguatkan kekuatan tertentu dan sebaliknya melemahkan kekuatan yang lain.

Film Plantungan diputar di Ambon sore tadi, sebuah film yang wajib ditonton oleh siapapun yang menaruh hati dan perhatian terhadap sejarah bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, sejarah perjalanan bangsa ini sudah seharusnya menjadi landasan penting dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sayangnya hari ini tidak begitu lagi menjadi perhatian karena cenderung berkabut dan kontroversial. Sebuah idiom keren yang dilontarkan oleh teman saya bahwa sesuatu yang kontroversial itu akan selalu menarik menjadi dasar mengapa saya begitu tertarik mengenai isu rekonstruksi sejarah yang dilakukan untuk meluruskan kembali sejarah Indonesia yang sudah sejak lama terbukti dipolitisir. Tapi apakah idiom tersebut juga berlaku dalam kajian sejarah bagi kebanyakan orang ? jawabannya saya sendiri tidak begitu meyakininya.


Plantungan, PKI dan Gerwani

Produk sejarah adalah produk teror massa, sebuah produk yang dibuat untuk menciptakan mindset berfikir orang banyak atas sebuah kejadian—peristiwa atau diri orang per orang. Sejarah sebagai sebagai rekaman fakta peristiwa dan kejadian telah menyembunyikan banyak hal dan membentuk konsepsi pemikiran tertentu atas sebuah fakta yang sebenarnya harus bias diterima secara valid sesuai dengan fakta yang sebenarnya dengan tidak didasarkan pada kebutuhan akan perspektif tertentu sehingga membatasi, mengurangi bahkan menghilangkan fakta yang sebenarnya.

Film Plantungan menambah lagi daftar panjang gugatan fakta peristiwa terhadap catatan sejarah. Film dokumenter berlatar Indonesia tahun 65 yang berisi kesaksian para bekas tahanan politik perempuan yang menghuni Kamp Pembuangan Plantungan di Kendal, Jawa Tengah tersebut memaparkan banyak fakta yang tentu saja selama ini tidak dimunculkan dalam catatan sejarah.

Kutipan Suci Danarti di awal tulisan ini adalah semacam inti dari film Pluntungan yang memaparkan fakta sejarah yang selama ini sengaja dibengkokkan dan disebunyikan. ada semacam kesalahan berpikir masyarakat mengenai peristiwa – peristiwa yang terjadi disekitar tahun 65 dan keadaan tersebut dikarenakan penciptaan perspektif oleh sejarah.

“ Saya ditangkap selama 14 tahun tanpa peradilan “ begitu penuturan Sp Tien Wartini. Kekerasan yang terjadi terhadap para Tapol perempuan yang adalah motor gerakan Gerwani tersebut tidak hanya dalam bentuk penangkapan yang semena – mena dan penghukuman tanpa proses peradilan tetapi juga secara fisik berupa pemerkosaan dan bentuk eksploitasi seksual yang bukan hanya terjadi bagi para penghuni kamp tersebut tetapi juga untuk para keluarga mereka. “ untuk menemukan gambar palu dan arit, perempuan – perempuan dibugili dan dipermainkan sesuka hati para petugas “ lanjutnya.

Sungguh sesuatu yang mengerikan menggambarkan kondisi Kamp Plantungan dan isolasi yang dilakukan terhadap para perempuan “terhormat” ini. Kamp Plantungan sebelum di jadikan Kamp pembuangan tapol pada tahun 1970 adalah sebuah tempat isolasi bagi penderita kusta, berada dihutan belantara dan sangat tidak manusiawi untuk dijadikan tempat tinggal bahkan untuk Tapol sekalipun namun begitulah kenyataan yang sebenarnya dan selama ini hilang dalam catatan informasi sejarah yang bias diakses oleh publik. Negara menyembunyikan borok ini tapi kini baunya telah tercium dan melebar kemana – mana.

Sebagai seorang anak yang mengkonsumsi “sejarah nasional” di bangku pendidikan formal kini saya memiliki kesadaran kritis bahwa selama ini saya telah tertipu atau dibuat sengaja tidak mengetahui bagian – bagian penting yang seharusnya menjadi alasan penting nasionalisme saya betapa bangsa dan Negara ini lahir dan tumbuh dalam sebuah gejolak konflik yang harus dipelajari untuk tidak lagi terulang. Kesadaran tersebut lahir dari sebuah proses pencarian, perenungan dan penemuan bukan dari klarifikasi sejarah yang dilakukan oleh mereka yang memiliki wewenang.

PKI adalah musuh Negara, bersinggungan dengan PKI adalah kejahatan dan Gerwani adalah kumpulan perempuan – perempuan “tidak benar” adalah konstruksi sejarah yang setidaknya saya sadari berada didalam diri saya ketika masih berada di bangku pendidikan formal lewat bacaan dan fil Gestapu yang dulunya sering diputar untuk mendoktrinisasi pikiran kita akan keberadaan musuh – musuh Negara tersebut yang ternyata kenyataannya sama sekali tidak benar dan perlu mendapatkan pembenaran fakta dalam catatan sejarah yang bahwa didalam polemic tata Negara saat itu keduanya dianggap mengancam keamanan Negara sejarah tidak seharusnya menipu.

Mari mulai Bicara Kebenaran

Generasi muda Indonesia sebagai pemegang tongkat estafet perjalan bangsa hari ini harus mulai “peduli” dengan sejarah setidaknya sebagaimana saya sampaikan sebelumnya untuk dijadikan alas an mencintai dan hidup mati – matian membela bangsa dan Negara ini. Generasi muda hari ini harus mulai mendekatkan diri dengan kebenaran yang bila tidak disajikan secara logis harus ditelusuri keberadaannya.

Plantungan adalah satu dari sekian banyak situs sejarah yang terselubung dan untuk membuka banyak bagian lain yang akan menggemparkan kesadaran semu kita mulailah dengan tidak membaca sejarah dalam tafsir penguasa saja tapi juga dari mata sejarah yang sebenarnya.
---
*film plantungan adalah film yang dibuat oleh komnas perempuan dan dilaunching 10 Februari lalu. Sebuah film yang baik untuk menjadi konsumsi bangsa kita hari ini. Semoga kita selalu tercerahkan setidaknya dengan membaca kembali lembah Plantungan dan semoga tuhan juga senantiasa memaafkan mereka para “penipu” sejarah. Amin   

Lini Mas(s)a dan Cinta Satu Malam untuk Donny Bu


diunggah dari http://donnybu.com/
Duduk kita beratap langit dan tanpa beralaskan apa – apa. Suasana seperti ini adalah suasana pertama bagi saya sejak menghantarkan film lini mas(s)a diputar diberbagai daerah. Saya suka suasana seperti ini, saya suka kota ini – Donny Bu

---

 Dadakan didaulat menjadi moderator pemutaran film lini mas(s)a di Ambon malam tadi membuat saya belajar banyak hal dari seorang inspirasional bernama Donny Bu, sebagai seorang pemula di dunia social media professional yang berusaha memaksimalkan potensi social media dan menggunakannya sebagai alat untuk membangun sekaligus menggerakan gerakan sosial membuat saya merasa tercerahkan lewat kalimat – kalimat sederhana yang diselingi tawa renyahnya.

Lini Mas(s)a adalah film yang dibuat atas dasar kecemasan untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia akan sebuah “palu” besar yang menancapkan kembali “alas tongkak” semangat yang kokoh untuk melakukan perubahan menuju tata kehidupan masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan penjelasan produser film dokumenter yang memetakan gerakan masyarakat melalui social media di Indonesia setidaknya dalam kurun waktu beberapa tahun ini atas pertanyaan sederhana saya mengapa film tersebut dibuat saya meletakan pemahaman saya bahwa film tersebut dibuat untuk mendokumentasikan Indonesia, mendokumentasikan masyarakat Indonesia dalam bentuk lain selain yang ada di media – media mainstream.

Donny Bu mengaku jatuh cinta dan terkagum – kagum dengan kota Ambon, dengan laut, dengan makanan, dengan segala potensi yang dimiliki daerah ini dan sebagai seseorang yang sering diposisikan sebagai tour guide pernyataan seperti itu tentu bukan barang baru lagi ditelinga saya mengingat sudah terlalu banyak orang yang mengatakan jatuh cinta pada kota kecil dengan pesona alam yang luar biasa ini. Tapi pernyataan tersebut tidak selesai sampai disitu, Donny Bu mengkritik dan memberi masukan besar kepada pengguna internet (social media) di kota Ambon untuk bisa memberikan informasi tentang keberadaan Ambon kepada dunia luar “ saya merasa kekurangan informasi akan tempat ini dan sudah menjadi kewajiban setiap pengguna social media untuk mendorong terbukanya akses informasi agar orang lain juga bisa tahu tentang potensi yang ada disini. Dari tadi saya foto – foto dan upload terus, banyak yang komen dan pengen datang untuk tahu lebih banyak tentang Ambon “ jelasnya.

Jakarta versus Daerah

Apa yang disampaikan Donny Bu tersebut pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru pertama kali diwacanakan di kalangan penggiat social media di Ambon karena setidaknya dalam beberapa kali kopdar atau kegiatan – kegiatan berbasis social media isu tentang terbatasnya informasi mengenai Ambon tersebut telah disampaikan. Namun sebagai sesuatu yang baru, apa yang disampaikan oleh Donny Bu tersebut setidaknya dapat dikatakan sebagai hantaman besar yang menguatkan barisan optimism bahwa sudah saatnya kesadaran tersebut tumbuh dan berkembang menjadi satu kekuatan besar yang mendorong kemajuan di daerah.

Dalam diskusi yang yang saya pimpin terjadi kekisruhan (begitu menurut saya)  ketika seorang penanya melontarkan pertanyaan dengan sebelumnya menyebut Donny BU sebagai perwakilan bogger pusat atau blogger Jakarta “ saya sejujurnya tidak suka diminta duduk disini, saya senang untuk memposisikan diri sebagai pengantar rol saja. Perlu dipahami bahwa sejujurnya tidak ada yang namanya blogger pusat atau blogger Jakarta, semuanya sama yang membedakan hanyalah Jakarta adalah ibu kota dimana akhirnya orang – orang yang ada disana didekatkan dengan akses, gaya hidup modern serta keberadaan selebriti yang menjadi public figuir dan menyita banyak perhatian termasuk di social media tapi untuk soal gerakan saya lebih mengacungkan jempol untuk teman – teman yang ada di daerah. Pergerakannya lebih ideal dan menyentuh langsung problematika masyarakatnya “ tandas Donny Bu.

Bangun Gerakan Pro - Rakyat

Gerakan yang dibangun di social media idealnya adalah gerakan yang didekatkan pada realitas kehidupan masyarakat. Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka, perhatikan realitas kehidupan masyarakat untuk menggalang sebuah gerakan yang massif. Bagi saya ini adalah bagian sangat inspiratif betapa bagi seorang Donny Bu membangun gerakan lewat social media adalah bentuk simpati bagi bangsa dan Negara.
Donny Bu juga bercerita tentang latar belakang berdirinya ICTwatch dan bagaimana dirinya yang meninggalkan kursi emouknya di Detik.Com yang sebagai portal berita terbesar di Indonesia telah memberinya segala yang dibutuhkannya demi untuk memenuhi keterpanggilan hatinya untuk menulis dam dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
---

Terima kasih untuk film Lini Mas(s)a dan cinta satu malam dari Mas Donny Bu, bukan karena ada lagu itu ditengah – tengah diskusi tapi karena ceritanya membuat saya sebagai orang muda jatuh cinta dasemakin percaya masih banyak orang peduli dan mau berdedikasi untuk bangsa ini dengan selalu berfikir lalu berbuat. Idealisme manusia bebas merdeka masih hidup dan tersebar dimana – mana untuk saling menguatkan. Selamat hari jadi untuk Maluku Blogger. Maju terus dengan berbuat. Sampai jumpa di seminar internet sehat besok :)