Beta sudah mati di bibir natsepa;
Setelah meneguk manisnya nestapa;
Yang diseduh dalam air kelapa muda;
Bersama bening air mata mama-mama kebaya;
Beta bilang beta cinta mati;
Tidak pernah ingin mengungkit sakit hati;
Setelah darah semata kaki;
Lalu sempat berpikir; beta harus pergi;
Beta hidup lagi; mengingkari matahari;
Berdiri di rumah-rumah gunung yang awannya bergulung;
Beta bakar baju berkabung;
Buang sarung; undang pombo datang bawa pergi janji;
Beta sudah mati; lalu hidup lagi;
Beta tidak bisa pergi;
Melupa negeri;
Laut biru berubah jadi merah darahpun jadi;
Beta Sudah Mati
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 05 September 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Maaf itu datangnya (harus) dari Hati
Kadang saya masih sering bingung dengan apa itu maaf.
Ini bukan tentang definisi maaf tapi tentang nilai rasa dari maaf itu sendiri.
Bagi saya maaf bukan cuma sekedar kata, maaf adalah sikap dan sebagai sebuah
sikap maaf adalah buah dari sebuah perjalanan panjang atau mari kemudian
disebut sebagai hasil dari perjuangan guna memperoleh maaf itu sendiri.
Sebelas jam yang lalu Ri Nai menulis (bukan)
festival maaf yang kurang
lebih intinya ingin menyampaikan maksud bahwa kata maaf jangan hanya dipakai pada sebuah momentum
ritual belaka saja. Kata maaf kini berseliweran di mana-mana,
mulai dari microbloging twitter, facebook sampe sms bahkan Broadcast Message.Pada prinsipnya semua adalah sah-sah saja, karena
ketulusan dari maaf tersebut tidak akan dapat di ukur orang lain kecuali oleh
mereka yang saling meminta dan member maaf tapi saya merasa harus ada yang di
ingat bahwa di hari biasa maaf itu bukan sesuatu yang murah namun dalam produk
budaya seperti lebaran saat ini "maaf" seperti anjlok, cuci gudang,
turun harga habis-habisan.
#Maluku dalam karya @aanmansyur: Semacam cinta dan kesaksian
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 29 Agustus 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Catatan
/
Comments: (0)
![]() |
| Aan Mansyur |
Saya akhirnya bertemu
Aan Mansyur yang di bicarakan itu. Kami mengobrol banyak dan tentu saya lebih
banyak mendengar. Laki-laki sederhana yang karya-karyanya tidak biasa itu berbagi
banyak hal, menjawab bertubi-tubi pertanyaan “acak” saya dengan lebih banyak cerita
tentang dirinya sendiri; tentang bagaimana dirinya berkarya. Aan menyampaikan
kecemasan (ini kata saya. Saya anggap Aan Cemas) dengan minimnya sastrawan/penyair
muda dari timur Indonesia. Berulang kali Aan menyampaikan rasa cintanya pada
kota Ambon, Maluku tempat lahir sekaligus tempat tinggal saya. Aan bilang “kamu
bisa menulis keindahan yang ada disana” dan laki-laki itu telah memulainya jauh
sebelum kalimat tersebut di sampaikan pada saya.
Ini adalah
postingan yang mer-repost enam puisi Aan Mansyur dari perjalanannya mengelilingi
kepulauan Maluku yang saya percaya bisa jadi cambuk serta penyemangat
sasatrawan Muda Maluku . Tentang perjumpaan bersama Aan mungkin akan saya
ceritakan lebih panjang suatu hari nanti. Intinya saya bersyukur telah bertemu,
bertatap-tatapan dan lebih dari itu bisa saling berpelukan (berkali-kali). Semoga
ide dan keinginan kita bisa segera terwujud. Aan terima kasih :)
Becak = Sebuah Gengsi
Diposting oleh
iphank dewe
on Kamis, 18 Agustus 2011
Label:
Ambon Manise,
Becak,
Catatan,
Kota Ambon
/
Comments: (0)
| Becak di Ambon |
Bagi mereka yang melancong ke Ambon sempat-sempatkanlah
untuk berkendara menggunakan becak keliling kota. Becak di Ambon pada dasarnya
sama seperti becak pada umumnya yang terdapat di kota-kota lain, beroda tiga
dan di gerakan oleh tenaga manusia. yang membedakan becak di Ambon dengan becak-becak yang berada di tempat-tempat lain adalah gengsinya.
Anak Bantar Gebang Bisa Menang #17an
“ karna semua anak Indonesia punya hak yang sama untuk belajar dan jadi
pandai “
Di suatu malam yang absurd di
sebuah trotoar denagn dua gelas kopi sebagai teman, saya dan Bhagavad Sambadha bertukar cerita, obrolan “sok tahu” tapi tidak “sok
penting” karena apa yang kami obrolkan memang adalah sesuatu yang kami yajini penting
(sampai disini maaf kalo beneran “sok tahu” yaa). kami mengobrol tentang belum
meratanya pembangunan-tentang dampak pembangunan yang belum bisa menjangkau
seluruh lapisan masyarakat baik dipandang dari klasifikasi sosial ekonomi
maupun hal-hal teknis seperti luasnya wilayah yang mengakibatkan terbatasnya
jangkauan dan dari semua semua sektor pembangunan yang masih terlambat tersebut
pendidikan adalah sektor yang sangat disayangkan.
JAS MERAH
Diposting oleh
iphank dewe
on Selasa, 16 Agustus 2011
Label:
#Indonesia66,
#KACI,
Ambon Bergerak
/
Comments: (0)
Presiden Soekarno pernah bilang "Jangan Melupakan Sejarah". Semangat yang kemudian di kenal dengan semangat Jas Merah ini sungguh menjadi sebuah nilai yang harus terus di amalkan. Apa jadinya anak bangsa yang katanya besar tapi tidak memahami sejarah bangsanya sendiri. Memahami sejarah perjalan bangsa akan membuat setiap orang memiliki alasan logis mengapa di a "harus" mencintai bangsa dan negaranya bukan cuma sekedar omdo alias omong doang.
Sekarang Waktunya Semangat "Orang Muda"
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 15 Agustus 2011
Label:
#17an,
#Indonesia66,
AmbonBergerak
/
Comments: (0)
"perjuangan dulu di lakukan dengan fisik, dengan air mata dan darah. setelah merdeka generasi muda hari ini hanya perlu melanjutkan perjuangan tersebut dengan tekun belajar dan berkarya hal-hal yang positif"
Kutipan diatas jelas bukan kutipan yang asing, setidaknya ketika jaman SD dulu kita pasti sering mendengar guru-guru kita selalu menyampaikan kutipan tersebut. sederhana tapi bermakna dalam, begitu kurang lebih kesan yang akan timbul bila kutipan tersebut dihayati dengan sunguh-sungguh. tugas generasi muda memang tidak seberat pendahulu-pendahulu, pejuang-pejuang yang memenangkan kemerdekaan dengan darah dan air mata tapi kondisi tersebut juga bukan tanpa tantangan. kalau dulu musuh kita penjajah, sungguh saat ini musuh kita adalah anak bangsa sendiri, mereka-mereka yang cenderung apatis atau tidak memiliki rasa nasionalisme.
Generasi Manja (ayo) Melek Politik
Diposting oleh
iphank dewe
on Kamis, 11 Agustus 2011
“yang bilang gitu adalah generasi
muda yang manja. generasi sekarang memang sukanya yang instan-instan aja”
Tanpa terasa program TV Provocative Proactive yang di tayangkan di
Metro TV telah menginjak usia satu tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk sebuah
program TV mingguan yang di garap secara professional oleh Panji Pragiwaksono
dkk. Sepanjang satu tahun perjalanannya Provocative Proactive tentulah telah
melewati berbagai proses kreatif yang mematangkan konsep dasar program tersebut
yang kurang lebih dalam pemahaman saya di arahkan untuk menjadi salah satu corong
untuk menyuarakan kebenaran serta ajang edukasi politik publik khususnya di
kalangan anak muda.
Masih dekat rasanya dalam ingatan gemuruh sambutan yang luar biasa
ketika program obrolan ringan dengan celetukan-celetukan cerdas nan pedas tersebut
pertama kali disiarkan tertanggal 31 Juli 2010. Kesuksesan tersebut terbukti
dengan tercatatnya jumlah follower twitter @ProvocActive yang di buat hari itu
juga mencapai angka 5000-an dan berhasil menjadi Tranding Topic dengan label “One
of Indonesian brilliant TV Show on Metro TV”. Lewat informasi yang
menggelembung di twitter seminggu sebelumnya sayapun menjadi orang yang ikut menantikan
program yang kalau tidak salah ingat di kesempatan pertama tersebut menghadirkan
Togar Sianipar dan tentu saja menjadi salah satu follower twitternya pada saat
itu juga.
Ramadhan, meja makan dan kenangan
Bedug di tabuh, adzan
magrib berkumandang menandakan waktu berbuka telah tiba. Di meja makan
ibu menyajikan hidangan berbuka seadanya sesuai selera keluarga. Bapak
adalah seorang pecinta kolak singkong sehingga telah terjadwalkan sekian
tahun dalam ingatan saya bahwa buka puasa di hari pertama dalam
keluarga kami pastilah akan diisi dengan kolak berkuah coklat kental
tersebut baru kemudian digilir dengan menu selanjutnya sesuai kegemaran
kami.
Selain sebagai bulan yang mengembirakan dimana amal ibadah di lipat gandakan dan momengtum penyucian diri dengan menahan segala amarah ramadhan bagi saya juga adalah bulan di mana meja makan kembali mengambil peran dalam keluarga kami dan kenangan adalah menu utama akan yang menguap di antara pekerjaan mengisi perut ketika berbuka. Sebagai keluarga yang tidak memiliki budaya makan satu meja di hari-hari biasa, berbuka puasa merupakan sebuah moment yang memiliki kesan luar biasa dimana kami (saya, bapak, ibu dan adik perempuan) akan duduk mengelilingi meja yang sama dan menyantap makanan dalam waktu bersamaan.
“ kalo buka puasa begini bapak pasti ingat kakak. Dia yang selalu menunggu bapak pulang dan mengambil kantong berisi kue lalu tidak lupa bertanya apakah bapak membeli tart kentang pesanannya atau tidak “ bapak membuka suara pertamanya setelah lama kami terdiam menyantap makanan masing-masing
“ iya… kakak suka
skali tart kentang “ adik perempuan saya mengiyakan setelah detik
sebelumnya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Saya menatap ibu,
menunggu komentarnya. Sebagai layaknya seorang ibu yang melahirkan dan
membesarkan beliaulah orang yang paling terpukul dan merasa kehilangan
anak tertuanya—kakak perempuan saya yang berpulang lebih dulu di panggil
sang maha kuasa. Peristiwa 8 tahun silam tersebut memang telah mampu di
ikhlaskannya namun di mata saya ibu tetap adalah orang yang mampu
memberi kalimat-kalimat emosional perihal segala yang dirasakannya
terlebih-lebih di waktu-waktu kebersamaan seperti ini.
Senja Merah
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 27 Juni 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Kata - kata,
Puisi
/
Comments: (3)
Tidak ada lagi yang lebih indah setelah kusaksikan
senja merah merekah dimatamu
Tidak ada lagi sesudah itu
Didepan pagar rumahmu kubawakan puisi
Syair cemas apa kita akan bertemu kembali
Melawati satu hari bersama tanpa pernah bertanya
kapan hari ini akan usai
Lalu kita tak akan berpisah lagi
Aku melihat temanku, kesendirianku
memanggil-manggil
Tapi aku masih tidak peduli padahal hujan sudah
membuatku menggigil
Aku basah tak berdaya dihadapanmu
Dibalik tirai kulihat mukamu cemberut ingin
menggerutu
Angin membawa pesanmu padaku dengan kaku
Katamu kau tak ingin berpisah walau sudah harus
jadi begitu
Tidak ada lagi yang lebih indah setelah bersamamu
sepanjang hari
Tidak ada lagi setelah kau pergi
Diujung jalan aku membawa serta air mata
Mengumandangkan orasi perpisahan yang kudengar
sendiri saja
Pelan-pelan kuucap pesan keramat; jaga baik-baik
hatimu disana
Semoga bisa cepat kita berjumpa
Aku melihat hidupku, kesendirianku tersenyum gilang
gemilang penuh kemenangan
Tapi aku masih tidak peduli karena kutahu dirimu mencintaku
bukan kepalang
Aku berada disini, tempat semestinya kita ada
Dipesisir tempat kita jatuh diatas pasir dan
meminang buta
Matahari tergelincir berganti bulan yang tidak akan
berubah rupanya meski dirimu tiada
Kataku kau adalah alasan untukku bersuka cita tanpa
takut menjadi tua dan pelupa
Tiada lagi
setelah senja merah itu merekah dimatamu.
Hatiku
mati padamu setelah itu
Sebuah Catatan dari #SerdaduKumbang
Diposting oleh
iphank dewe
on Jumat, 24 Juni 2011
Label:
Catatan,
film,
Film Indonesia,
IDE,
Serdadu Kumbang
/
Comments: (2)
Tadi sore akhirnya saya menonton Serdadu Kumbang, film yang saya
terima sebagai satu lagi film Indonesia yang berkualitas. Film ke-5 Alenia Pictures ini bagi saya mengesankan karena selain seperti
biasa berangkat dari realitas sosial, mengusung nilai-nilai budaya dan menjadikan
pendidikan sebagai salah satu muatan utama, film berlatar kehidupan masyarakat Sumbawa,
Nusa Tenggara Barat ini adalah film yang menguras emosi, penonton kerap diajak
tertawa terbahak-bahak mengapresiasi bagian-bagian konyol sekaligus juga
mengikis rasa simpati yang tidak kurang bisa berujung dengan air mata.
Sejak awal saya memang sudah
terkesima dengan film besutan Ari Sihasale tersebut. Padang ilalang, anak
laki-laki berkuda, juga pohon besar dengan latar langit dan pegunungan di bagian
awal film tersebut seketika mengembalikan ingatan saya pada film Denias,
Senandung Negeri di Atas Awan, yang juga kurang lebih menghadirkan keindahan
yang sama. Apa beda Papua dan Sumbawa? Keduanya sama indah, keduanya sama istimewa,
keduanya sama Indonesia, dan terlebih keduanya memiliki realitas sosial yang
sama tertinggalnya setidaknya dari frame kedua film tersebut. Maka begitulah
kemudian bagi saya Papua dan Sumbawa tidak ada bedanya.
Ame, Acan, dan Umbe, tiga sekawan
dalam cerita Serdadu Kumbang bagi saya adalah satu lagi cerminan yang
merefleksikan kehidupan anak Indonesia di daerah yang menghadapi realitas
kehidupan serba berkekurangan ketika impian, cita-cita, dan harapan adalah
pedoman hidup untuk terus melangkah maju menghadapi segala persoalan yang ada. Jauh
dari sarana prasarana pemenuhan kebutuhan hidup memanglah adalah sebuah tantangan
terlebih lagi ketika didekatkan pada realitas betapa majunya dunia hari ini
dengan segala kecanggihannya. Namun bercermin dari pengalaman dan apa yang ada, saya
percaya bahwa sarana prasarana bukanlah satu-satunya faktor utama untuk
mencapai keberhasilan, karena sesungguhnya ketiga faktor penggerak daya hidup
yang telah saya sebutkan sebelumnya di ataslah yang memiliki kekuatan lebih
di hidup manusia. Ada banyak anak petani jadi pembesar di bangsa ini, ada banyak
anak kampung jadi petinggi di kota, dan banyak lagi contoh lain yang bisa lebih
spesifik sehingga keyakinan bahwa akan selalu ada takdir baik untuk mereka yang
berusaha terlebih-lebih di tengah kesulitan adalah benar, saya menemukan
penegasan terhadap hal tersebut di dalam Serdadu Kumbang.
Pattimura (Tidak) Butuh Starbucks
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 20 Juni 2011
Label:
Ambon,
Ambon Bergerak,
Catatan,
Maluku,
Opini,
Universitas Pattimura
/
Comments: (6)
Ini adalah postingan
balasan untuk “Starbucks UI” yang diposting oleh Arnellis beberapa hari yang lalu. Di
postingannya tersebut kawan saya menulis tentang kegamangannya menyaksikan
kehadiran sebuah gerai kopi internasional dengan tulisan hijau menyala
“Starbucks Coffee” yang menempel layaknya parasit di bangunan baru Perpustakan
Pusat Universitas Indonesia yang konon katanya adalah perpustakaan terbesar
Se-Asia Tenggara.
Dalam postingannya
tersebut, Arnellis mengutip pernyataan saya betapa Universitas Indonesia seharusnya
menyandang berat beban persoalan bangsa hari ini, khususnya di bidang
pendidikan yang hingga kini masih saja jauh dari harapan masyarakat.
Keharusan ini bagi saya lahir dari konsekuensi Universitas Indonesia yang
menggunakan “Indonesia” sebagai nama yang dengan sendirinya menjadi semacam
legitimasi atas keseluruhan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Lepas dari
latar belakang sejarah bahwa kampus biru tersebut adalah universitas pertama di
Indonesia dan berkedudukan di ibu kota negara sehingga memperoleh penamaan eksklusif
tersebut, identitasnya tetaplah perlu diperbaharui agar mampu menjawab realitas
sosial kekinian.






