Tampilkan postingan dengan label perempuan Maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan Maluku. Tampilkan semua postingan

Perempuan Maluku dalam Cengkraman Budaya Patriarki

monumen martha christina
ini adalah sebuah catatan kecil yang terlambat saya tuliskan sebagai intisari siaran radio dengan topik “perempuan hijau “ dalam rangka peringatan hari bumi dan hari kartini bulan lalu. Mengapa perempuan hijau ? alasannya adalah agar bermakna ambigu yang berarti perempuan – perempuan muda; semangat kartini – kartini mudaa dalam menjawab tantangan – tantaangan kekinian dan perempuan – perempuan hijau yang peduli terhadap isu – isu lingkungan hidup. Tapi posting saya ini lebih akan saya tegaskan pada catatan – catatan kecil menyangkut posisi perempuan Maluku dalam budaya masyarakat yang patriarki.

Maluku adalah salah satu wilayah di Indonesia yang sampai saat ini kehidupan masyarakatnya lebih menggunakan perspektif hukum adat untuk menyelaraskan tata kehidupan sehari - hari masyarakatnya selain pula kerangka hukum normatif sebagai sebuah kemutlakan. Dalam budaya hidup orang Maluku yang patriarki, perempuan mendapatkan posisi tersendiri—posisi sebagai kaum yang berada di balik punggung laki – laki, berada di garis belakang untuk mengurusi segala hal menyangkut pangan, rumah, anak dan berbagai pekerjaan perempuan pada umumnya. Namun menjadi sebuah catatan kecil yang sangat penting untuk ditegaskan bahwa meskipun berada dalam kepungan budaya Patriarki, perempuan Maluku mendapaatkan posisi istimewa yaitu harus dilindungi, harus didahulukan dan sudah sejak lama dibiarkan menceburkan diri dalam kubangan emansipasi.