Hujan deras yang sempat mengguyur kota Ambon pelan-pelan berubah
jadi gerimis, pukul 19.15 WIT saya berhasil mendarat di Gong Perdamaian Dunia tempat
akan berlangsungnya Refleksi “Badati Damai”. Meski hujan baru mereda, ternyata
sudah banyak orang yang datang dan mempersiapkan acara yang sederhananya adalah
medium “baku dapa” orang-orang yang menghendaki kehidupan damai di Maluku.
Refleksi Badati Damai: Leang Sayang Laeng, Leang Lia Laeng
Diposting oleh
iphank dewe
on Jumat, 25 November 2011
Label:
#BadatiDamai,
Ambon,
Ambon Damai,
Catatan,
Maluku,
Perdamaian Maluku
/
Comments: (2)
Dari Sebuah Tempat Yang Jauh
Diposting oleh
iphank dewe
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Dari tempat yang jauh
Dari waktu yang berbeda
Aku mengingatmu. Lemah
Aku rasa tubuhnku. Butuh segera bersua
Dari rumahku
Aku membayangkanmu yang berada dirumahmu
Memikirkan aku. Sama seperti aku memikirkanmu
Hanya sebatas pikiran. Kita tak dapat saling bercumbu
Aku sayang padamu
Lalu kau jawab: Aku juga sayang padamu
Pesan pendek tak pernah bisa berkesudahan
Terlalu pendek untuk mengungkap perasaan. Terlebih-lebih sebuah ciuman
Dari tempat yang jauh
Kita bicara. Sebentar saja
Karna sesudah itu hening. Marah
Pada jarak. keadaan yang menihilkan bahkan untuk sebuah pelukan yang
biasa-biasa saja
Dari rumahku
Aku menulis puisi untukmu
Bicara padamu. Pada hatimu
Aku mencintaimu. Bahkan sudah lebih dari itu.
Batu Hitam Di Lapangan Hijau
Diposting oleh
iphank dewe
/
Comments: (0)
Lalu sudah dia berdiri
Sudah berlari sekencancang-kencangnya
Meninggalkan genangan air mata, darah yang mengering. Menuju senyum
kebanggaan orangt-orang di dusun
Dengan bola. Satu-satunya miliknya
Dari sebuah rumah sederhana, dimana ribuan bau bisa bercampur
Mata yang tajaam bisa lahir, menyala terag menghidupkan gelap
Tangan dan kaki yang kokoh. Anak-anak terbaik yang mematahkan ranting
dan batu-batu tajam
Lawan terbaik kawanan babi hutan
Di bawah sorot lampuh dan teriakan yang pecah
Duka dari luka bisa diingat. Bisa pula dirawat
Hal-hal sederhana yang mengenangkan. Orang-orang mati tanpa batu nisan
Ditebus batu hitam yang jadi tumpuan ribuan haarapan
Sepetak tanah disamping rumah. Teman-teman kecil sepermainan
Tertinggal sudah jauh dibelakang
Hanya doa-doa yang melayang, menembus batas. Sesuatu yang tidak akan
bisa dipandang
Hanya bisa dirasa.
Lalu lampu-lampu sudah padam
Suara-suara sudah mengabur
Batu hitam dilapangan hijauh tetap riuh. Sudah jauh ditinggalkannya
rumah, juga gawang kecil disamping yang tiada lagi punya bintang. Bermimpilah
dia
Dalam senyap yang tersisa. Kemenangan.
Kemerdekaan. Batu-batu hitam ditanah yang hitam
Sepak Bola: Dari Rakyat, Untuk Rakyat
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 21 November 2011
/
Comments: (0)
Bukan sesuatu yang berlebihan bila mengatakan selain bencana,
sepak bola adalah hal lain yang dapat mengeratkan rasa persaudaraan dan
kebangsaan bangsa Indonesia. Lautan manusia, sorak-sorai, dukungan semangat dan
doa yang mengalir kencang untuk tim sepak bola kita di final malam ini adalah
satu lagi bukti dari pendapat tersebut. Sepak bola sebagai sesuatu yang
bernilai penting memang bukan baru terjadi malam ini, sepak bola adalah sesuatu
yang masih “benar-benar” milik rakyat, masih benar-benar bisa melambungkan
harapan setiap orang setinggi-tingginya dan yang terpenting hasil dari setiap
pertandingan, apapun itu adalah milik semua rakyat Indonesia.
Tentang Sebuah Kentut di Ambon
Diposting oleh
iphank dewe
on Minggu, 20 November 2011
/
Comments: (0)
Siapa tak tak mengenal kentut. Kecil memang
Tapi itu hanya nampaknya
Sebuah kentut mengamalkan pribahasa kecil-kecil cabe rawit
Abis dikentut bisa jadi harus dirawat
Sebuah kentut dalam sejarah peradaban manusia memang sering jadi pemicu
Perdebatan, adu mulut sampai adu parang
Pertikaian. Bahkan mungkin sejenis perang saudara
Dimana harga diri ditegakkan jadi umbul-umbulnya
Sebuah kentut kadang bisa disamakan dengan retorika politik
Tajam baunya, tak tampak wujudnya
Seribu kali dicari, seribu kali kecewa. Alih-alih menunggu
Buahnya bisa jadi cuma kesal, geram dan sakit hati
Sebuah kentut dalam dunia medis dapat divonis berbahaya
Dikategorikan racun karena berasal dari jenis makanan yang berbahaya
iri hati, dengki dan hal-hal picik lainnya
Tidak butuh banyak. Satu dua kali “proot” pasti kritis
Lalu…
Apa hubungan sebuah kentut dengan Ambon
Bukankah sebuah kentut ada dimana-mana, dikota manapun
Jawabannya adalah iya. Iya di ambon kentut bisa jadi sesuatu. Datang dari
satu pantat dan dihembuskan ke seantero negri dan membuat orang-orang mabuk
Di kota ambon yang kecil, sebuah kentut bisa nyaring terdengar
Membahana disegala penjuru
Menggema dari ujung ke ujung
Memancing perhatian semua orang
Di kota ambon yang orang-orangnya gemar berkumpul, sebuah kentut bisa
jadi sebuah perdebatan
Didebatkan beramai-ramai, dijinjing kemana-mana
Jadi bahan gunjing. tak habis dimakan waktu
Apalagi berubah jadi sepatu ataupun batu
Di kota ambon yang lebih mirip kampung, sebuah kentut bisa dikepung
Dijadikan menu utama yang diserubu seluruh negeri
Umpan yang dikerumuni ribuan ikan di laut
Macam mantra yang bisa turunkan moyang-moyang dari bukit-bukit
Lalu…
Bisakah manusia berperang melawan sebuah kentut yang katanya adalah kodrat
Bisakah orang-orang menyelamatkan ambon dari ancaman sebuah kentut
Jawabannya tanyakan pada angin yang berhembus dipesisir. yang tak
pernah menyelipkan sisir di saku belakang atau berlagak pilon tidak punya bulpen
untuk tanda tangan.
Katong Seng Tako (Melawan Teror)
Diposting oleh
iphank dewe
on Jumat, 18 November 2011
Label:
Ambon,
Ambon Bergerak,
Beta Maluku,
Catatan,
Opini,
Perdamaian Maluku
/
Comments: (0)
![]() |
| foto almascatie: pattimura muda |
Gerakan-gerakan besar didunia
yang mendorong perubahan pada prinsipnya adalah gerakan-gerakan yang menutut
perbaikan. Ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan pada kenyataannya selalu
menjadi alat tekan, landasan bersikap untuk melakukan sebuah upaya. Gerakan perubahan
adakah sebuah keniscayaan karena dalam pandangan apapun, sebuah perbaikan
adalah nilai yang penting untuk mencapai tingkatan-tingkatan tertentu. Secara umum,
sebuah gerakan mendorong perubahan—sebuah gerakan yang menuntut perbaikan
bermuara pada cita-cita paling sederhana dalam kehidupan manusia yaitu
kesejahteraan.
Hari apa ini ?
Diposting oleh
iphank dewe
on Rabu, 16 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Orang-orang yang memilih berjalan di lorong gelap hari
Masih diawasi. Tiada beda dengan tahun-tahun sebelumnya
Sedang orang-orang yang mengendap-ngendap sendiri dalam keramaian hari ini
Tidak lagi dianggap sesuatu yang aneh. Berubah menjadi sebuah aliran,
sebuah ajaran
Koran-koran sudah tidak dipercaya
Begitupula televisi dan radio
Berita-berita lebih dianggap karangan indah berisi kebohongan
Lalu orang-orang lebih percaya pada desas desus ketimbang apa yang
diketahuinya sendiri
Orang-orang yang memilih berteriak merdeka di lorong gelap hari ini
Masih terus dimata-matai. Salah-salah dianggap pengacau, salah-salah
dihakimi keadaan
Sedang orang-orang yang menyanyikan lagu cinta palsu di panggung
hiburan hari ini
Tidak lagi dianggap sebagai penipu. Sebab semua terdengar baik, laksana
nabi yang membawa kebenaran dari langit
Zaman berubah. Manusia-manusiapun berubah. Jadi pongah
Dalam kepongahannya manusia jadi lebih suka berdebat, jadi lebih suka
baku hantam
Tanpa jalan keluar yang sepenuhnya dikembalikan sebagai hak tuhan
Kebenaran kini duduk bersanding dengan kesejahteraan. Menjadi barang
mahal. Semisal mimpi basah dibawah kolong jembatan penyebrangan
Orang-orang yang memilih marah di dalam lorong hari ini
Masih diintimidasi. Dianggap musuh dan harus dimatikan
Sedang orang-orang yang berbaik-baik diruang hampa hari ini
Tidak lagi dianggap sesuatu yang sia-sia. Banyak orang seperti beradu
melakukan satu hal yang sama
Kebaikan, hal-hal sederhana
Hal-hal kecil seperti air susu ibu dimasa kanak-kanak kini naik
harganya
Bukan karena tingginya permintaan
Tetapi karena sudah langka dan dimusiumkan. Sesekali saja dipajang
dipigura untuk dipertontonkan untuk kepentingan meriahnya sebuah arena pertunjukan
Orang-orang yang berlari mengejar bayangannya didalam lorong hari ini
Masih dikebiri, dianggap hidup dijaman jahiliya dan tidak mampu
mengupgrade kehidupannya
Sedang orang-orang yang berteriak-teriak kemanusiaan dari kamar gelap
Sudah tidak dianggap lagi seuatu yang kosong. Karena bisa jadi artis,
dibayar berjuta-juta dan semua orang ingin naik kelas yang sama
Orang-orang yang berguru hal-hal baik didalam lorong hari ini
Yang percaya tentang perbaikan harus dimulai dari hal-hal kecil didalam
diri
Sungguh tidak lagi lebih baik dari orang-orang yang mengharamkan palu
arit dalam gambar tapi menjadikannya mainan kunci seribu pintu
Mimpi-mimpi kebaikan dijual murah dan semuanya nampak jadi lebih baik.
Orang-orang hari ini.
Hari apa ini ?
Perempuan Indonesia
Diposting oleh
iphank dewe
on Selasa, 15 November 2011
Label:
orang indonesia
/
Comments: (0)
Tulang-tulang yang busuk
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 14 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Hampir malam, ketika itu. Aku tidur direrumputan. Menyibak ilalang.
Memperbaiki bayang-bayang. Lalu datang bau tajam. Menusuk dari bawah, mendesak
naik lalu memenuhi udara. Tulang-tulang penuh darah, keluar mencari makan—menembus
kulit.
Amis, aku mencium amis. Amis yang datang dari tubuhku
sendiri. Lalu aku bingung, berusaha mengajaknya bicara. “Tulang-tulang mengapa?”
tapi tulang-tulang diam tak punya suara. “tulang-tulang ada apa? Tulang-tulang
tetap tak menjawab, tetap keluar—tetap kemana-mana.
Tulang-tulangku. Masihkah jadi tulang-tulangku. Mengapa tak
bicara padaku. Mengapa pergi meninggalkan aku.
Sebelum aku terbaring disini. Jauh sebelum jasadku lahir. Jauh
sebelum tulang-tulang berdarah-darah menembus kulit. Di langit, tulang-tulang pernah
dijanji. “kelak sekalian dari kamu—wahai tulang-tulang rusuk akan dipertemukan
kembali. Membayar rindu, selamanya hidup bersama”.
Tidak ada air mata, tulang-tulang tidak pernah punya air
mata. Tulang-tulang pula tidak pernah punya pilihan. Hanya bisa menerima. Lalu bila
ternyata tulang-tulang rusuk tidak dipertemukan kembali. Tulang-tulang akan
busuk. Akan keluar membayar rindu, masuk ketanah mencari pasangannya yang
tertimbun tanah merah yang masih basah.
Lalu kini aku menangis. Menyaksikan tulang-tulangku keluar. Menjadi
bukan tulang-tulangku. Mencari tubuhmu. Mencarimu yang mati membawa pergi keinginanku,
harapanku dan semua pakaian yang masih membungkus urat kemaluanku untuk tidak menjadi gila
karena terlalu lama berjarak darimu. Tuhan mungkin punya rencana lain, tapi
tulang-tulang rusukku memilihmu. Sudah keluar, berdarah-darah menuju
rumah barumu yang basah dengan air hantaran dan air mataku yang jatuh mengalir membelah lautan. Aku menangis, melepas tulang-tulang rusukku busuk ditelan kerinduan.
Tulang-tulang rusukku adalah tulang-tulang rusukmu. Begitupun
begitu.
Bulan Yang Tenggelam Di Piring
Diposting oleh
iphank dewe
on Kamis, 10 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Aku dengar orang-orang ribut
Aku lihat sekelompok mahasiswa dikejar-kejar keparat
Di televisi. Orang-orang berselisih pendapat
Mendebatkan hal-hal. Ikhtiar merebut sebelum direbut.
Lalu aku dengar angin berhembus
Membungkus nyilu dari kesunyian yang kian hari kian membius
Di balik nyiru dua ekor serangga bersenggama
Aku ingin kembali bicara perihal cinta
Di depan pintu kamarku. Di Ambon
Aku duduk dan memandang langit malam yang warnanya biru
Melihat bulan dengan mata telanjang. bulat-bulat minta ditikam di ulu
Sebuah piring kosong berisi air dihadapanku berubah jadi bulan. Bisa dimakan.
Aku ingin kau mendengarku
Sama seperti aku mendengar bunyi angin, juga orang-orang yang ribut
Aku ingin kau melihatku
Sama seperti aku melihat bulan yang sandra perasaan yang begini keparat
Pada piring dimana bulan tenggelam aku bicara
Sayang, aku telah belajar mencintaimu sejauh ini
Maka jangan pasung aku dalam amarah sebab aku sekarang cuma bisa rasa
Bicara pada bulan. Aku mencintaimu: hingga sabar menanti begini.
---
Perempuan yang Menanak Cinta didalam Dadanya
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 07 November 2011
/
Comments: (1)
perempuan yang memendam rindu dalam malam
telah menanak cinta didalam dadanya
kesunyian bagai bohlam-bohlam
pijar cahayanya menusuk dari mana-mana
di bangku tengah rumah ia terduduk
diatas tiap lembar kulit yang pelan-pelan mengelupas ia berdoa
hidup ternyata derita: bahkan setelah nyawa berani digadai diujung badik
waktu sudah jauh, ingatan-ingatan sudah mengabur: semua sudah dilupa
di meja dekat bangku ia tertunduk
ditulisnya duka di atas selembar surat
anak laki-lakinya mati: suaminya hilang tiada kabar, tiada suara
lalu keinginan sudah tua, harapan-harapan sudah usang: dirinya sudah belajar melupa
perempuan yang memadu sepi
sambil menyulam selimut untuk dirinya sendiri
berkata: masa depan oh masa depan, beri tanda bahaya
orang-orang jahat masih berkeliaran. mereka menebar racun, memaksa kuasa dengan paksa
api amarah padam
tulang sudah remuk redam
keberanian telah digugat tragedi silam
yang tersisa cuma doa yang mengiklaskan dendam: tetap rapi tersimpan
---
untuk perempuan-perempuan yang ditakut-takuti masa lalu. sejarah bangsa adalah sejarah penindasan.




