Bukan sesuatu yang berlebihan bila mengatakan selain bencana,
sepak bola adalah hal lain yang dapat mengeratkan rasa persaudaraan dan
kebangsaan bangsa Indonesia. Lautan manusia, sorak-sorai, dukungan semangat dan
doa yang mengalir kencang untuk tim sepak bola kita di final malam ini adalah
satu lagi bukti dari pendapat tersebut. Sepak bola sebagai sesuatu yang
bernilai penting memang bukan baru terjadi malam ini, sepak bola adalah sesuatu
yang masih “benar-benar” milik rakyat, masih benar-benar bisa melambungkan
harapan setiap orang setinggi-tingginya dan yang terpenting hasil dari setiap
pertandingan, apapun itu adalah milik semua rakyat Indonesia.
Sepak Bola: Dari Rakyat, Untuk Rakyat
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 21 November 2011
/
Comments: (0)
Tentang Sebuah Kentut di Ambon
Diposting oleh
iphank dewe
on Minggu, 20 November 2011
/
Comments: (0)
Siapa tak tak mengenal kentut. Kecil memang
Tapi itu hanya nampaknya
Sebuah kentut mengamalkan pribahasa kecil-kecil cabe rawit
Abis dikentut bisa jadi harus dirawat
Sebuah kentut dalam sejarah peradaban manusia memang sering jadi pemicu
Perdebatan, adu mulut sampai adu parang
Pertikaian. Bahkan mungkin sejenis perang saudara
Dimana harga diri ditegakkan jadi umbul-umbulnya
Sebuah kentut kadang bisa disamakan dengan retorika politik
Tajam baunya, tak tampak wujudnya
Seribu kali dicari, seribu kali kecewa. Alih-alih menunggu
Buahnya bisa jadi cuma kesal, geram dan sakit hati
Sebuah kentut dalam dunia medis dapat divonis berbahaya
Dikategorikan racun karena berasal dari jenis makanan yang berbahaya
iri hati, dengki dan hal-hal picik lainnya
Tidak butuh banyak. Satu dua kali “proot” pasti kritis
Lalu…
Apa hubungan sebuah kentut dengan Ambon
Bukankah sebuah kentut ada dimana-mana, dikota manapun
Jawabannya adalah iya. Iya di ambon kentut bisa jadi sesuatu. Datang dari
satu pantat dan dihembuskan ke seantero negri dan membuat orang-orang mabuk
Di kota ambon yang kecil, sebuah kentut bisa nyaring terdengar
Membahana disegala penjuru
Menggema dari ujung ke ujung
Memancing perhatian semua orang
Di kota ambon yang orang-orangnya gemar berkumpul, sebuah kentut bisa
jadi sebuah perdebatan
Didebatkan beramai-ramai, dijinjing kemana-mana
Jadi bahan gunjing. tak habis dimakan waktu
Apalagi berubah jadi sepatu ataupun batu
Di kota ambon yang lebih mirip kampung, sebuah kentut bisa dikepung
Dijadikan menu utama yang diserubu seluruh negeri
Umpan yang dikerumuni ribuan ikan di laut
Macam mantra yang bisa turunkan moyang-moyang dari bukit-bukit
Lalu…
Bisakah manusia berperang melawan sebuah kentut yang katanya adalah kodrat
Bisakah orang-orang menyelamatkan ambon dari ancaman sebuah kentut
Jawabannya tanyakan pada angin yang berhembus dipesisir. yang tak
pernah menyelipkan sisir di saku belakang atau berlagak pilon tidak punya bulpen
untuk tanda tangan.
Katong Seng Tako (Melawan Teror)
Diposting oleh
iphank dewe
on Jumat, 18 November 2011
Label:
Ambon,
Ambon Bergerak,
Beta Maluku,
Catatan,
Opini,
Perdamaian Maluku
/
Comments: (0)
![]() |
| foto almascatie: pattimura muda |
Gerakan-gerakan besar didunia
yang mendorong perubahan pada prinsipnya adalah gerakan-gerakan yang menutut
perbaikan. Ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan pada kenyataannya selalu
menjadi alat tekan, landasan bersikap untuk melakukan sebuah upaya. Gerakan perubahan
adakah sebuah keniscayaan karena dalam pandangan apapun, sebuah perbaikan
adalah nilai yang penting untuk mencapai tingkatan-tingkatan tertentu. Secara umum,
sebuah gerakan mendorong perubahan—sebuah gerakan yang menuntut perbaikan
bermuara pada cita-cita paling sederhana dalam kehidupan manusia yaitu
kesejahteraan.
Hari apa ini ?
Diposting oleh
iphank dewe
on Rabu, 16 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Orang-orang yang memilih berjalan di lorong gelap hari
Masih diawasi. Tiada beda dengan tahun-tahun sebelumnya
Sedang orang-orang yang mengendap-ngendap sendiri dalam keramaian hari ini
Tidak lagi dianggap sesuatu yang aneh. Berubah menjadi sebuah aliran,
sebuah ajaran
Koran-koran sudah tidak dipercaya
Begitupula televisi dan radio
Berita-berita lebih dianggap karangan indah berisi kebohongan
Lalu orang-orang lebih percaya pada desas desus ketimbang apa yang
diketahuinya sendiri
Orang-orang yang memilih berteriak merdeka di lorong gelap hari ini
Masih terus dimata-matai. Salah-salah dianggap pengacau, salah-salah
dihakimi keadaan
Sedang orang-orang yang menyanyikan lagu cinta palsu di panggung
hiburan hari ini
Tidak lagi dianggap sebagai penipu. Sebab semua terdengar baik, laksana
nabi yang membawa kebenaran dari langit
Zaman berubah. Manusia-manusiapun berubah. Jadi pongah
Dalam kepongahannya manusia jadi lebih suka berdebat, jadi lebih suka
baku hantam
Tanpa jalan keluar yang sepenuhnya dikembalikan sebagai hak tuhan
Kebenaran kini duduk bersanding dengan kesejahteraan. Menjadi barang
mahal. Semisal mimpi basah dibawah kolong jembatan penyebrangan
Orang-orang yang memilih marah di dalam lorong hari ini
Masih diintimidasi. Dianggap musuh dan harus dimatikan
Sedang orang-orang yang berbaik-baik diruang hampa hari ini
Tidak lagi dianggap sesuatu yang sia-sia. Banyak orang seperti beradu
melakukan satu hal yang sama
Kebaikan, hal-hal sederhana
Hal-hal kecil seperti air susu ibu dimasa kanak-kanak kini naik
harganya
Bukan karena tingginya permintaan
Tetapi karena sudah langka dan dimusiumkan. Sesekali saja dipajang
dipigura untuk dipertontonkan untuk kepentingan meriahnya sebuah arena pertunjukan
Orang-orang yang berlari mengejar bayangannya didalam lorong hari ini
Masih dikebiri, dianggap hidup dijaman jahiliya dan tidak mampu
mengupgrade kehidupannya
Sedang orang-orang yang berteriak-teriak kemanusiaan dari kamar gelap
Sudah tidak dianggap lagi seuatu yang kosong. Karena bisa jadi artis,
dibayar berjuta-juta dan semua orang ingin naik kelas yang sama
Orang-orang yang berguru hal-hal baik didalam lorong hari ini
Yang percaya tentang perbaikan harus dimulai dari hal-hal kecil didalam
diri
Sungguh tidak lagi lebih baik dari orang-orang yang mengharamkan palu
arit dalam gambar tapi menjadikannya mainan kunci seribu pintu
Mimpi-mimpi kebaikan dijual murah dan semuanya nampak jadi lebih baik.
Orang-orang hari ini.
Hari apa ini ?
Perempuan Indonesia
Diposting oleh
iphank dewe
on Selasa, 15 November 2011
Label:
orang indonesia
/
Comments: (0)
Tulang-tulang yang busuk
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 14 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Hampir malam, ketika itu. Aku tidur direrumputan. Menyibak ilalang.
Memperbaiki bayang-bayang. Lalu datang bau tajam. Menusuk dari bawah, mendesak
naik lalu memenuhi udara. Tulang-tulang penuh darah, keluar mencari makan—menembus
kulit.
Amis, aku mencium amis. Amis yang datang dari tubuhku
sendiri. Lalu aku bingung, berusaha mengajaknya bicara. “Tulang-tulang mengapa?”
tapi tulang-tulang diam tak punya suara. “tulang-tulang ada apa? Tulang-tulang
tetap tak menjawab, tetap keluar—tetap kemana-mana.
Tulang-tulangku. Masihkah jadi tulang-tulangku. Mengapa tak
bicara padaku. Mengapa pergi meninggalkan aku.
Sebelum aku terbaring disini. Jauh sebelum jasadku lahir. Jauh
sebelum tulang-tulang berdarah-darah menembus kulit. Di langit, tulang-tulang pernah
dijanji. “kelak sekalian dari kamu—wahai tulang-tulang rusuk akan dipertemukan
kembali. Membayar rindu, selamanya hidup bersama”.
Tidak ada air mata, tulang-tulang tidak pernah punya air
mata. Tulang-tulang pula tidak pernah punya pilihan. Hanya bisa menerima. Lalu bila
ternyata tulang-tulang rusuk tidak dipertemukan kembali. Tulang-tulang akan
busuk. Akan keluar membayar rindu, masuk ketanah mencari pasangannya yang
tertimbun tanah merah yang masih basah.
Lalu kini aku menangis. Menyaksikan tulang-tulangku keluar. Menjadi
bukan tulang-tulangku. Mencari tubuhmu. Mencarimu yang mati membawa pergi keinginanku,
harapanku dan semua pakaian yang masih membungkus urat kemaluanku untuk tidak menjadi gila
karena terlalu lama berjarak darimu. Tuhan mungkin punya rencana lain, tapi
tulang-tulang rusukku memilihmu. Sudah keluar, berdarah-darah menuju
rumah barumu yang basah dengan air hantaran dan air mataku yang jatuh mengalir membelah lautan. Aku menangis, melepas tulang-tulang rusukku busuk ditelan kerinduan.
Tulang-tulang rusukku adalah tulang-tulang rusukmu. Begitupun
begitu.
Bulan Yang Tenggelam Di Piring
Diposting oleh
iphank dewe
on Kamis, 10 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Aku dengar orang-orang ribut
Aku lihat sekelompok mahasiswa dikejar-kejar keparat
Di televisi. Orang-orang berselisih pendapat
Mendebatkan hal-hal. Ikhtiar merebut sebelum direbut.
Lalu aku dengar angin berhembus
Membungkus nyilu dari kesunyian yang kian hari kian membius
Di balik nyiru dua ekor serangga bersenggama
Aku ingin kembali bicara perihal cinta
Di depan pintu kamarku. Di Ambon
Aku duduk dan memandang langit malam yang warnanya biru
Melihat bulan dengan mata telanjang. bulat-bulat minta ditikam di ulu
Sebuah piring kosong berisi air dihadapanku berubah jadi bulan. Bisa dimakan.
Aku ingin kau mendengarku
Sama seperti aku mendengar bunyi angin, juga orang-orang yang ribut
Aku ingin kau melihatku
Sama seperti aku melihat bulan yang sandra perasaan yang begini keparat
Pada piring dimana bulan tenggelam aku bicara
Sayang, aku telah belajar mencintaimu sejauh ini
Maka jangan pasung aku dalam amarah sebab aku sekarang cuma bisa rasa
Bicara pada bulan. Aku mencintaimu: hingga sabar menanti begini.
---
Perempuan yang Menanak Cinta didalam Dadanya
Diposting oleh
iphank dewe
on Senin, 07 November 2011
/
Comments: (1)
perempuan yang memendam rindu dalam malam
telah menanak cinta didalam dadanya
kesunyian bagai bohlam-bohlam
pijar cahayanya menusuk dari mana-mana
di bangku tengah rumah ia terduduk
diatas tiap lembar kulit yang pelan-pelan mengelupas ia berdoa
hidup ternyata derita: bahkan setelah nyawa berani digadai diujung badik
waktu sudah jauh, ingatan-ingatan sudah mengabur: semua sudah dilupa
di meja dekat bangku ia tertunduk
ditulisnya duka di atas selembar surat
anak laki-lakinya mati: suaminya hilang tiada kabar, tiada suara
lalu keinginan sudah tua, harapan-harapan sudah usang: dirinya sudah belajar melupa
perempuan yang memadu sepi
sambil menyulam selimut untuk dirinya sendiri
berkata: masa depan oh masa depan, beri tanda bahaya
orang-orang jahat masih berkeliaran. mereka menebar racun, memaksa kuasa dengan paksa
api amarah padam
tulang sudah remuk redam
keberanian telah digugat tragedi silam
yang tersisa cuma doa yang mengiklaskan dendam: tetap rapi tersimpan
---
untuk perempuan-perempuan yang ditakut-takuti masa lalu. sejarah bangsa adalah sejarah penindasan.
SMS Komodo Untuk Sapi dan Kambing Kurban
Diposting oleh
iphank dewe
on Sabtu, 05 November 2011
/
Comments: (0)
Bunyi petas petus petasan sudah berkurang. Cuma tinggal satu dua saja
Tapi takbir masih berbunyi keras tanda pesta persiapan belum selesai
Sapi-sapi dan kambing-kambing yang tidak pernah harus mandi itu sedang
lepas pisah
Mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang berjasa
Sapi-sapi dan kambing-kambing tahu takdir mereka
Hanya butuh hidup sehat dan sabar menjelang takdir ditangan tukang
jagal
Entah untuk dijual lalu dibeli dijadikan rendang
Atau dipotong-potong kecil-kecil lalu dibagikan pada kaum yang fakir
Sapi-sapi dan kambing-kambing tahu nasib mereka
Hanya butuh jadi manfaat semasa hidup dan sesudah mati
Kadang mungkin rasanya mereka yang lebih layak menyombongkan diri
Bisa jadi manfaat ketimbang manusia yang hanya bisa bikin onar
Disela-sela pesta perpisahan seekor sapi mendadak lemas dipojokan
Rasa nyilu merambat dari kaki hingga perut, hingga kepala hingga
matanya kunang-kunang
Ada apa sayang ? Tanya seekor
sapi lain dengan seribu tanda tanya dikepala
Kematian tidak akan pernah memisahkan kita. Sapi itu berkata lagi
Sapi yang terkulai lemas itu menggeleng
Melihat disekitarnya telah berkerumun sapi-sapi dan kambing-kambing
lain
Jangan cemas padaku. Ujar sapi yang baru saja hampir dikasihi itu
Ini tentang pesan ini, tambah sapi sambil menyodorkan handphonenya
Bunuh saja aku.
Penggal kepalaku
Kuliti kulitku
Rebus dagingku
Hidangkan aku dimeja makan orang-orang yang rakus itu
Biar mereka puas. maka begitu ijinkankanlah aku ikut dikurbankan bersama kalian
Pesan singkat satu rupiah itu datang dari komodo
Komodo yang frustasi karna diputar dimeja pemodal
Tiba-tiba semua menitikan satu tetes air mata
Satu tetes air mata untuk menolak satu rupiah yang membuat komodo
dibully habis habisan
Andai saja nabi sulaiman masih hidup
Mungkin sekarang sudah direbutnya toa masjid untuk sekedar bicara
Tuan-tuan dengar tuan
Komodo minta disembelih besok. Bersama sapi dan kambing-kambing yang
akan bertemu dengan tuhannya
Aku Mendengarmu: Sunyi
Diposting oleh
iphank dewe
/
Comments: (0)
Aku mendengarmu bicara banyak
Tentang perjumpaan, tentang perpisahan
Tentang bunyi-bunyi air yang kadang tak sempat direkam daun-daun
Aku mendengarmu bicara rupa-rupa
Tentang kebahagian, tentang kesedihan
Tentang langit jingga yang kadang terlalu cepat berubah menjadi malam
Aku mendengarmu
Meski engkau tak pernah bicara padaku. aku dengar
Aku dengar tawamu yang pecah. yang membuat semua orang menoleh kearahmu
Aku dengar tangismu yang luruh. yang membuat semua bahu tertuju padamu
Aku dengar. Aku dengar semuanya
Aku dengar sampai akhirnya engkau tak lagi berkata apa-apa
Aku dengar. Aku dengar semuanya
Aku dengar sampai akhirnya tiada lagi suara-suara
Engkau mati ditikam kata-katamu
Engkau mati ditelan mimpi-mimpimu
Aku dengar. Aku dengar mulutku berkata amin
Tapi setan dikepalamu tak butuh amin
Aku tak punya madu
Maka begitu aku tak bisa engkau hisap
Aku tak bisa engkau makan hidup-hidup
Maka engkau tak pernah bicara padaku
Tapi aku tetap mendengar
Sampai akhirnya engkau mati.
--- sunyi
Jakarta Hujan
Diposting oleh
iphank dewe
on Kamis, 03 November 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
untuk sebuah kota yang ramai. jakarta
hujan adalah rindu. solusi sekaligus masalah
kebanyakan orang menepi
lalu kebanyakan lagi yang lain tetap berada dijalan. terjebak
siapa yang akan pedulu siapa
padahal tubuh sudah saling himpit-himpitan. mengutuk atau bahkan menikmati hal yang sama
ada senyum malu-malu
meminta api. membakar diri demi sebuah rasa. hangat
untuk sebuah kota yang ramai. jakarta
hujan adalah ribuan musafir yang tersesat dan mengalihkan perhatian
kebanyakan orang enggan bersalaman. atau bahkan hanya untuk sekedar tegur sapa
lalu kebanyakan yang lain rela telanjang bersama. saling meraba.
apa yang lebih penting dari pertanyaan apa-apa
bahkan ketika pikiran dan ingatan disusupi perihal yang sama. kenang mengenangkan
ada senyum-senyum sendiri
bila itu rasa sudah larut dalam dingin. tidak tahu akan dibawa kemana
untuk sebuah kota yang ramai. jakarta
hujan adalah parade kemanusian. ritual mandi bersih yang bebas dipilih atau tidak
perag kelas nampak jelas. memasang taring dengan rupa-rupa bunyi mengabur yang nyaring ditelan gemuruh
lalu orang-orang sadar. hidup yang retak hanya milik manusia
larut. hanyut. dalam hujan.
jakarta
---
beberapa hari lalu (setelah hujan), Oktober 2011
Mati di Laut
Diposting oleh
iphank dewe
on Minggu, 23 Oktober 2011
Label:
Bengkel Sastra Maluku,
Puisi,
sastra
/
Comments: (0)
Bisakah kita bicara disaat-saat seperti ini
Ketika angin bertiup dari mana-mana dan aku tak mampu menghalau. Rindu
Aku melihat jutaan kilatan tanda panah mengapung di lautan
Menuntunku pulang ke satu-satunya dermaga yang aku tuju. Ingatan
tentangmu.
Aku kini sudah pergi
Meninggalkan dunia yang berselisih
Orang-orang pintar yang saling serang
Orang-orang setengah pintar yang gemar bergunjing
Juga mereka yang tidak masuk kedalam hitungan keduanya. Yang hanya bisa
saling sikut, saling tendang
Bisakah kita bicara disaat-saat seperti ini
Ketika langit mulai diliputi gelap dan aku gagap bernyanyi. Merdu
Aku menyaksikan ratusan camar terbang rendah
Mengajarkan aku perihal bersyukur. Masih sempat menjilat sumpah serapah
Aku kini sudah jauh
Melewati batas gelombang radio. Keluar tanpa membawa TV apalagi surat
kabar
Juga aturan-aturan. Segala kepatutan yang harus dibayar lunas diatas
tanah tempat bendera berkibar
Dalam telanjang aku nelangsa. Dadaku bergetar.
Bisakah kita bertemu disaat-saat seperti ini
Ketika aku lebih banyak bicara sendiri dan berkaca pada mata. Waktu
Namun bila tidak. Akan aku titip sebuah pesan untukmu bersama ombak
yang bergulung ke pesisir
Bertemu denganmu, mencium kakimu. Menjilati kuku-kuku lentikmu
Dari atas palka kapal aku bersaksi
Sudah kutulis namamu. Lengkap beserta irisan senyum khasmu di batu-batu
karang
Biar dihempas ombak. Ombak yang sebelumnya sudah kucampurkan dengan
satu tetes air matamu
Mulutku kaku tak lagi bisa mengucap mantra. Hanya doa kecil yang bisa
aku ucap hampir malam itu. Dalam namamu.
Bila sudah tiba musim timur.
Tunggu aku dipesisir. tempat dimana bayanganmu bisa membelah lautku
Pesanku akan tiba padamu
Sepucuk surat berisi tanya jawab yang tertulis di tangan akan bicara
padamu:
Beta sudah sudah pulang bertemu maut. Ketika itu kita sudah tiada lagi
bisa berpaut.
Beta mati di laut.


