Menjahit Mimpi


Jelas adanya setiap orang memiliki mimpi atau yang disebut impian dan kurang lebih secara sederhana disama artikan dengan cita – cita atau tujuan pencapaian. Bagi saya semuanya tentu sama saja, apapun istilahnya, apapun nama yang dipakaim, maknanya tentu bermuara pada hasil akhir apa yang disebut keinginan. Apakah manusia harus selalu memiliki keinginan ? jawabannya adalah iya karna bayangkan saja hidup ini tanpa “kekuatan” keinginan tapi apakah kita perlu punya banyak keinginan ? jawabannya adalah relatif tergantung prisip dan cara pandang masing – masing orang tapi bagi saja jawabannya tetaplah iya.

Sebuah mimpi atau mimpi – mimpi sering kali sobek, terkoyak keadaan atau tergilas kenyataan yang tidak sesuai tap[I pemimpi yang baik adalah mereka yang selalu mampu menemukan cara untuk menjahit mimpi atau mimpi – mimpi tersebut. Bagi saya sebenarnya bukalah mimpi atau mimpi – mimpi yang sobek tapi keyakinan. Keyakinan kitalah yang menghidupkan setiap mimpi maka bila keyakinan kita terganggu hal tersebut akan berakibat fatal terhadap apa yang kita impikan.

Semacam Sembelit

Kalo lagi jatuh cinta itu seperti ada kupu – kupu dalam perut, saya dengar itu dari Dewi Subrata—seorang teman baru yang follow2an twitter gara – gara nyambung sambar sambaran twit dipostingan #LagukuBercerita miliknya. Lagu bercerita postingannya yang membuat saya tertarik adalah “simply” lagu milik dewi lestari yang menurut saya tidak begitu popular tapi saya suka makanya dengan tulus saya apresiasi, blakangan saya tau kalo lagu itu didedikasi untuk … ehhmm… laki – laki yang sedang ditaksirnya.

Dewi Subrata adalah orang yang menyenangkan menurut saya,baru kenal langsung curhat (itulah menyenangkan yang saya maksud). Dia risih dipanggil kakak karna merasa jadi tante – tante pedofil (bagian ini saya mau ngakak) dan katanya kita Cuma beda 5 tahun masa studi, saya 2005 dan dia 2000 (lima tahun pake cuma—sungguh keterlaluan) tapi setelah proses nyolot pake mau dihadiahin cemilan petasan akhirnya kami deal sahut - ssahutan kakak adek dengan bayaran ditraktir martabak kalo ketemu. Agak goblok sebenarnya. Hha

Balik lagi soal kupu – kupu, kak dewi subrata konon lagi naksir – naksirnya, tergila – gilanya dengan seorang laki – laki aries yang jangankan namanya, wajahnya juga saya tak tahu (termasuk dewi subrata mukanya kayak apa Cuma tuhan juga yang tahu saya ngak). Laki – laki itu dekat katanya tapi hanya mau menyebut hubungan mereka berdua sebagai temenan. Padanya saya memberi masukan klasik bernada provokatif “ maju kak, sebelum janur kuning melambai waktu belom abis”  plus sebuah pernyataan bodoh yang ternyata agak ngefek “ aries ama aries jodoh loh “  >> orangnya lalu nyengir semangat pake emote icon.

Sekitar beberapa jam lalu ada mention masuk bunyinya begini “ kupu-kupu sudah pergi. Tinggal sarang nya saja yang belum sempet dibersihkan. Antara rela ga rela. :) siap ga siap :)  “. Sejujurnya saya tidak paham tapi sungguh tentang kupu – kupu ini inspiratif sekali, kalo malam ini cuaca bersahabat ingin sekali membuat satu judul cerpen kupu – kupu dalam perut atau kupu – kupu dalam toples yang penting singkron ama analogi kalo jatuh cinta itu perut kek kemasukan kupu – kupu.

Katanya kupu – kupu itu terbang bukan lepas karena memang tak dikandangi walaupun dalam tafsiran saya dia pasti ingin sekali mengandangi kupu – kupu itu dengan jeratan “ nikah yuk, gw pengen nikah“ tapi ternyata apapun itu kupu – kupu sudah terbang. Apa artinya ? tanyakan pada perut yang ternyata “sembelit”. :))

saya bosan mencium-MU sayang

sayang kemarin kamu berkata padaku tentang, saat perempuan berkata "baik - baik saja" sesungguhnya itu berarti tidak baik - baik saja tapi saya terlalu capek untuk mengomentarinya, saya hanya ingin memeluk dengan sederhana-memandang kedalam matamu sambil menemukan apa yang tidak sedang baik - baik saja itu. aku capek berdebat dan semua itu memang ternyata karena jarak kita begitu milyaran jumlahnya.

saya menulis ini karna rasanya saya tidak akan pernah bisa mengungkapkan ini secara langsung padamu. saya bosan mencium-MU, saya bosan menciummu lewat handphone, saya benci menciummu dalam jarak, saya  sudah bosan mencium-MU dengan memeluk guling, menutup mata dan "gila" sendiri tanpa ada yang bisa benar - benar bisa disentuh. saya ingin dekat sedekatnya lagi denganmu. segera !


Mengingat Chairil Anwar ?


Hari ini, 28 April 62 tahun yang lalu, telah mati secara jasad seorang sastrawan Indonesia yang besar dalam karya dan merecoki pikiran kita hingga saat ini karena gaya juga cerita hidupnya yang sangat bernilai. Adalah Chairil Anwar nama dari seniman kelahiran Sumatra Utara, 26 Juni 1922 yang dikenal dengan sebutan si binatang jalang lewat karyanya “Aku”. Chairil bersama Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor Angkatan 45.

Masih pentingkah kita mengenal Chairil Anwar? Jawabannya tentu saja iya. Chairil adalah satu dari sekian banyak nama besar yang malang melintang di dunia sastra di Indonesia dan dianggap sebagai sastrawan pertama yang menyuarakan dalam karya-karyanya gaya baru yang kental dengan nuansa bebas merdeka. Puisi Chairil Anwar "Aku" dianggap fenomenal karena menjadi puisi pertama yang menggambarkan manusia-manusia baru setelah Indonesia merdeka, yang tidak terjajah dan bertuan, kecuali pada kehendak diri sendiri.

Chairil Anwar adalah manusia yang menempatkan kebebasan berekspresi dan berekspektasi terhadap situasi dan kondisi di atas persoalan-persoalan lain dalam hidupnya. Chairil dikenal urakan, tidak teratur, sering kekurangan uang dan sakit-sakitan. Mata Chairil selalu merah dan bagi kebanyakan orang menganggapnya menyeramkan. Chairil Anwar adalah gambaran manusia yang memandang “cukup” sebagai ukuran dalam hidupnya, dan tidak pernah berlebihan dalam hampir semua hal. Chairil menerjemahkan karya-karya sastra asing dan menulis puisi untuk menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Chairil Anwar adalah seorang besar yang tidak pernah bermimpi besar, Chairil Anwar juga seorang kaya yang tidak pernah menimbun hartanya tetapi melimpah sendirinya karena karya-karyanya yang justru besar dan dikenal dunia ketika dirinya sendiri tidak lagi hadir dalam rupa jasad manusia yang hidup. Chairil Anwar adalah sebuah batu tapal, pijakan kuat untuk menyuarakan suara-suara pembebasan, kemerdekaan berpikir dan berpandangan. Sebuah panutan ideal bagi kita yang mungkin kini sadar kehilangan nilai paling sederhana dalam kehidupan, yaitu kejujuran.

Tuhan,... Awas ada Bom di Rumah-MU


Tidak iya dapat kukeluhkan ini nasibku hanya selain padamu
Yang memiliki langit, yang memiliki bumi beserta isinya
Tidak juga iya dapat aku kusangkal kuasa lebih dari apa – apa yang dikehendakimu
Yang dapat tanpa dengan berkata jadi maka jadilah

Tapi bisakah kini kudatang dan keluhkan ini nasibmu yang kurasa derita
Tentang tragedi, tentang cerita ada lagi yang mati
Tapi bisakah kini kudapatkan kuyakiniku akan ini hati yang merindu damaimu
Tentang tak harus ada luka, tentang tak harus ada duka

Dipelataran rumahmu aku gelisah dan takut melangkah maju
Dialtar persembahanmu aku takut kehabisan waktu
Dimana lagi tempat aku pulang, dimana lagi tenpat aku berlindung
Ketika damai rumahmu terusik ledakan
Ketika amis darah membungkus dinding – dinding pertobatan

Aku hamba yang mencintimu lebih dari apapun
Yang hanya bisa bisu, bisa marah lalu menangis sesegukan mengusap ketakutan
Manusia – manusia kini diliputi amarah
Saling adu kekuatan, saling mencari pembenaaran
Aku hamba yang takut kehilanganmu lebih dari apapun
Yang takut kehilangan pegangan, lelah menggugat lalu hidup dalam kekosongan
Manusia – manusia kini kehabisan air mata
Saling adu kebingungan, saling mencari kebenaran

Kini biar Ijinkan aku datang dan bercerita ini nasibmu yang kurasa siksa
Kini biar ijinkan aku memelukmu dalam nama apapun
Aku mencintaimu tanpa derita dan siksa
Aku mencintaimu dalam damai dihati

Tuhaaaaan …. awas Tuhan
 “mereka” menaruh bom dirumahmu
Tuhaaaaan …. Awas Tuhan
“ mereka “ meneror atas nama kehendakmu

Atas Nama ( Moralitas dan Agama)

Film Atas Nama dimulai dengan rekam peristiwa runtuhnya rezim orde baru yang disertai narasi pembuka yang memikat tentang sakralnya kata perubahan yang dikumandangkan dihari – hari itu, tentang pekikan teriakan merdeka dan bebas yang seperti menemukan kembali maknanya yang utuh serta tentang hidupnya kembali masa depan yang lebih baik bagi banyak orang setelah sekian puluh tahun sebelumnya mati.

Film Atas Nama adalah sebuah catatan kritis, sebuah gugatan terhadap kesadaran semu bangsa Indonesia memandang realitas kepastian hukum atas Hak – hak warga Negara yang masih terus jauh dari apa yang dicita – citakan dan menjadi sebuah keharusan untuk dicapai. Perangkat Hukum konon dibuat untuk menciptakan keteraturan yang menempatkan perlindungan atas hak sebagai bagian yang ada didalamnya namun bagaimana ketika manusia akhirnya merasa dijebak atas nama penafsiran – penafsiran, dominasi – dominasi kelompk, perang ideologi dan keyakinan – keyakinan tertentu ? jawabannya adalah “ Negara Gagal “.

Dalam kurun waktu lima tahun pertama bergulirnya reformasi, penyempurnaan – penyempurnaan perangkat hukum mulai dari Undang – undang dasar hingga aturan perundang – undangan dibuat dan dititik beratkan pada upaya mengadopsi secara menyeluruh Hak Asasi Manusia sebagai ciri dari hukum modern. Diwaktu yang sama, konflik – konfik berlatar belakang Agama, Suku, Ras, Etnis dan Golongan terjadi seakan – akan sebagai sebuah ledakan atas potensi konflik yang telah mengendap lama. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang meledakannya ? Negara dalam atas situasi ini sudah tentu menjadi pihak yang dituntut tanggung jawabnya karena potensi konflik tersebutpun bisa dianggap tidak datang dari warga Negara melainkan diciptakan oleh otoritas tertentu memanfaatkan “perbedaan” yang sejatinya adalah sebuah kehendak penciptaan. Manusia yang sejak awal diciptakan berbangsa – bangsa, bersuku – suku, merdeka menentukan hak atas keyakinan beragama, bebas memilih golongan dengan macam isu yang mengakibatkan gesekan sosial tertentu lalu chaos dan disorientasipun terjadi.

Indonesia hari – hari ini memang sedang seperti “pemarah”, sebuah keadaan yang dikondisikan dimana setiap orang harus melindungi dirinya atas hak – hak yang dimilikinya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang warga Negara. Film Atas Nama yang adalah Film dokumenter besutan Komnas Perempuan mengangkat realitas hidup perempuan yang juga tidak luput dari konteks konflik – konflik horizontal tersebut.

Untuk Ibu (yang bukan) Kartini.

saya selalu mengingat tanggal 21 April seperti kebanyakan orang mengingatnya. tapi bila kebanyakan orang tersebut mengingatnya karena Kartini tentu saya tidak, sebagai seorang pelupa angka tidak pernah menjadi menarik untuk saya dan mampu mengingat angka dengan baik adalah sebuah prestasi yang tentu harus saya rayakan.

saya mengingat 21 April karena ibu saya. ibu saya lahir di angka keramat bagi kebanyakan perempuan Indonesia.tersebut. hari ini ibu berulang tahun lagi dan saya sekali lagi tidak mau membawa - bawa angka umur karena bagi saya melihatnya beruban dan memiliki banyak garis diwajah saja sudah cukup untuk membuat saya berfikir banyak hal.tentang bakti, tetantang terima kasih, tentang saya yang masih sering berdosa, tentang saya yang belum bisa membahagiakannya, tentang saya yang belum merasa jadi kebanggaannya, tentang saya yang masih belum punya cukup target untuk menaikan haji beliau bersama bapak dan tentang saya yang masih banyak lagi "kurang"nya dibanding segala yang diberikannya dalam hidup saya.

Kartini sudah mati tapi ibu saya masih hidup. lebih kuat dan lebih sabar bukan karena saya tidak mau mengapresiasi kartini tapi saya lebih mengenal ibu saya yang juga punya apa yang dielu - elukan dari perempuan berkonde itu. ibu saya penyabar, ibu saya pekerja keras, ibu saya pandai dan ibu saya adalah orang yang selalu bersyukur dibalik setiap kekurangan yang dirinya dan keluarganya miliki.

ibu dan kartini memiliki banyak kesamaan tapi ada satu perbedaan yang bagi saya istimewa, kartini populer dihati dan pikiran banyak orang tetapi ibu adalah satu - satunya dihati sedikit saja orang; anak - anaknya, suaminya, keluarganya dan teman - teman pengajiannya yang selalu senang mendengarkannya melafadzkan ayat - ayat dan nyanyian barjanji. kartini adalah cahaya untuk banyak orang tapi ibu hanya untuk rumah mungil kami.

suatu hari nanti saya ingin hidup dengan perempuan seperti kartini, seperti ibu bukan karena apa - apa tapi karena saya ingin berada disurga yang sebenarnya.surga dibawah telapak kaki yang tepat. selamat ulang tahun ibu, selamat hari kartini untuk perempuan indonesia. saya akan selalu ingat tanggal ini. :) .

Indonesia Kita #17an

dulu jaman SMA kalo ada yang nanya kenapa "Indonesia" ? jawaban saya sangatlah sederhana " karna bapak ibu saya Indonesia".atau " karna saya lahir disini " tapi skarang jawabannya memang tidak lagi sesederhana itu. banyak hal yang menjadi dasar betapa rasa kebangsaan seseorang haruslah mampu dipertanggung jawabkan, harus mampu dikawab dengan alasan mendasar dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan.

Indonesia bukan bangsa, Indonesia adalah kesatuan bangsa - bangsa yang bersama untuk satu tujuan sederhana: bebas, merdeka dari penjajahan dan mampu memperjuangkan hajat hidupnya sendiri. bagi saya perbedaan adalah bagian manusiawi, lahiriah pemberian tuhan yang harus disyukuri sebagai berkah.
Bila hari ini indonesia kita seperti terseok - seok karna tersandung ini dan itu, pengertiannya hanyalah bahwa kita sedang mengadapi ujian sebagai sebuah bangsa besar yang sudah pasti juga harus menerima ujian yang besar. mari terus mengkritisi tapi jangan pernah kurangi satu persenpun rasa cinta pada bangsa dan negara ini. indonesia harus satu. satu tujuan  



 ---
ini adalah 17 gambar yang saya siapkan dari Ambon untuk peringatan #17an. sebuah bentuk yang didasarkan pada keinginan mengikat perbedaan. meski kita berbeda, kita punya keyakinan dan simbol - simbol yang bisa mengikat kita menjadi satu bangsa, satu negara. satu Indonesia
---

bila hari ini ada yang bertanya pada saya 
" mengapa Indonesia ? "
jawaban saya tetap sederhana, 
" karna bangsa ini, tanah ini, negeri ini luar biasa " 

Indonesia #17an. 
sekian

Fernando, bocah pesisir pencari bia


Anak laki – laki itu bernama Fernando Pelamonia, duduk membelakangi matahari dan menunduk tekun memindahkan satu demi satu batu untuk menemukan apa yang dicarinya. Bia, Fernando mencari bia atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kerang tapi untuk jenis ini memiliki isi dan bisa dimakan. Fernando memang tidak sendirian, banyak pencari bia disekelilingnya tapi mata saya sudah tertahan pada anak laki – laki berbaju kuning itu, sayapun mendekat.

Mata Fernando memang awas, meski sedang fokus ekor matanya sudah menangkap saya yang mencoba mendekat padahal jaraknya kira – kira masih 5 meter dari tempat duduknya, Fernando mengangkat wajahnya dan tersenyum manis, sebuah penerimaan yang luar biasa menurut saya untuk seorang asing yang berniat mengganggu tentunya.

“ ini untuk dijual kak” jawab Fernando ketika saya bertanya untuk apa dirinya mencari bia “ ini bisa dimakan kak, caranya dilawar “ lanjutnya. Dilawar adalah istilah lokal Ambon untuk penyajian bia dengan cara merebus dan memadukannya dengan kuah santan. Hal tersebutpun saya ketahui dari anak berusia 11 tahun tersebut.

Fernando duduk dikelas 1 SMP dan sudah sejak usia 6 tahun ikut mencari bia dipantai ketika air meti[1]. “ emang laku dijual berapa ? “ Tanya saya . “ lima ribu kak satu tempat[2] “ jawab Fernando. “ lalu sehari bisa dapat berapa tempat ? “ Tanya saya lagi. “ paling banyak dua kak “ jawaban Fernando membuat saya tertegun betapa demi 5 ribu perak setiap harinya anak laki – laki itu telah memutuskan meninggalkan waktu bermain layaknya anak – anak kecil seumurannya untuk bermain sendirian dipantai mencari rejekinya.

Orang tua Fernando berprofesi sebagai petani dan sehari – hari dirinya mencari bia untuk memenuhi kebutuhan “jajan”-nya. Dalam perhitungan normalnya anak seumurannya, Fernando setidaknya membutuhkan duaribu rupiah untuk biaya transport pergi dan pulang dari sekolah, duaribu rupiah untuk jajan dan tersisa seribu rupiah bila rata – rata pendapatannya lima ribu perhari. Bagi saya Fernando bukanlah anak yang kurang beruntung karena setidaknya dirinya mampu menjawab kekurangan yang dihadapinya dengan berusaha melakukan apa yang bisa dilakukannya untuk memenuhi kekurangannya tersebut.

Fernando sedang mengumpul uang untuk membeli buku paket dari sekoalahnya, setiap harinya dia mampu menyisihkan Rp 3000 yang artinya dia hanya memenuhi ongkos transportnya ke sekolah selain itu tidak, disimpan semuanya untuk membeli buku. Sudah lebih dari lima jam Fernando duduk memindahkan batu, menggali pasir demi menemukan bia tapi ternyata hal tersebut tidaklah mudah sehingga belum juga setengah kantong dihasilkannya, saya merogoh kantong dan mengeluarkan satu lembar uang sepuluh ribu lalu menukarnya dengan kantong tersebut walaupun saya tidak mengonsumsi dan berniat membeli saja untuk menawarkan pada siapa saja kenalan yang tertarik mengkonsumsi. Fernando tersenyum dan baru saja saya mengucap terima kasih untuk hendak berpamitan, anak laki – laki hitam manis itu berdiri dan meminta saya menunggunya menukar uang untuk kembalian. Saya tersenyum dan member isyarat kepadanya untuk menyimpan saja uang kembaliannya,  Fernando tersenyum manis sekali. Dia anak Indonesia yang wajib menjadi panutan anak Indonesia lain. 
dia butuh segenggam bia untuk ditukar dengan sekantong berlian. :)

Semangat "besar" untuk Fernando :)  
    

  


[1] Bahasa sehari – hari Ambon yang digunakan untuk keadaan air laut yang surut.
[2] Istilah sehari – hari di Ambon untuk takaran dalam jual beli. Berlaku untuk bahan makanan seperti cabai, bawang dan sejenisnya.

bila cinta diucapkan dan sayang diwujud nyatakan, bagaimana dengan rindu ?

menimbun rindu adalah seperti membangun benteng batu 
tempat bersembunyi, tempat menghindar, tempat bertahan
semua tentang kerinduan adakalanya lebih baik daripada cinta dan sayang 
yang sering kali hanya sekedar saja
 rindu itu absurd
tidak nyata adanya seperti cinta dan sayang
rindu itu magis
berisi energi yang lebih dari kata dan sentuhan
rindu adalah tanda 
rindu adalah isyarat
bila cinta menjadi berarti dengan diucapkan 
dan sayang menjadi berarti bila diwujud nyatakan
maka rindu memiliki jalannya sendiri

bila rindu datang
menunggulah 
rindu lahir dari cinta dan sayang lalu menjadi lebih dari keduanya
percayakan hatimu padanya
---

Salam Kenal dari KepingFiksi101

kelahiran gaa perlu meriah, hanya saja kabar kelahiran tentu penting disampaikan. maka begitu telah lahir keduania sebuah halaman biasa - biasa saja berisi fiksi - fiksi yang minta dibawa kemana - mana. berikut adalah sebuah halaman pribadi saya yang memuat cerita - cerita pendek yang pernah saya buat untuk sekiranya bisa diapresiasi dengan saran, kritik, nasi goreng, mie ayam dan asal jangan bakso (pasti rugi karna saya bakal minta ditraktir terus. hhe).

memulai postingan diblog ini saya memposting ulang lima cerita pendek yang sebelumnya diposting terbatas di facebook.
http://kepingfiksi101.blogspot.com/

selamat menikmati, jangan lupa tinggalkan jejak. sebelum gelap, saya yakin belajar itu kemutlakan. hhe. salam kenal dari KepingFiksi101 :)

HIDUP ITU (SELALU) PUNYA TANDA

*) Apa yang kamu lakukan ?
#) Menunggu
*) menunggu itu tidak menyenangkan !
#) iyah :)
*) siapa yang kamu tunggu ?
#) aku tak menunggu seseorang.
*) oh… Kalau begitu “apa”. Apa yang kamu tunggu ?
#) Takdir. :)
#) Aku nunggu takdir. Jadi aku gaa perlu ngeluh enak atau tidak, aku cuma nunggu. :)
*) Berarti kamu ga pernah mau ngambil keputusan ?
*) hidup itu selalu tentang pilihan bukan ? :)
#) iyah. Hidup itu pilihan. Terlalu banyak pilihan dan aku hanya memilih satu.
*) apa itu ?
#) ‎​Aku menunggu takdir, yang dipilih tanpa harus memilih.
*) aku tidak begitu percaya takdir. Aku tidak menunggu. Takdir hidup itu memilih, pilihan itulah takdir hidup.
#) Hidup selalu punya tanda; Ketika tanda itu datang, mendekatlah. Bila tidak menunggulah.
*) #!??**x8-%… —-