SOCIAL MEDIA ADALAH RUMAH

Dari tiada menjadi "benar-benar" ada
karena lebih bangga disebut anak bandel, saya lebih sering bolos waktu mapel TIK (Teknologi dan Ilmu Komputer-keknya sih gitu) jaman SMP begitupun SMA. sebenarnya mendasar, dulu mana ada peduli, yaa walaopun sebenarnya belom dulu - dulu amat karena udah masuk tahun 2000an tapi tetap ajah dulu saya tidak menganggap penting pelajaran itu. asal lulus mata pelajaran IPA, IPS, matematika dan bahasa saja saya sudah pasti lulus jadi TIK TIK TIK itu emang ke laut ajah.

cerita tersebut ada hubungannya dengan social media di hidup saya. telat kenal komputer bikin telat juga kenal yang namanya internet dan telat kenal internet sama artinya juga dengan telat kenal social media. tapi ternyata ini bukan masalah besar, teknologi dan keinginan belajar adalah sinergi tak terbantahkan hingga mempelajari social media tidak pernah mengenal kata telat. akun socmed pertama saya adalah friendster yang itupun dipaksa - paksa temen lantaran dibilang gak gaul. waktu SMA ketika dewi lestari lagi booming - boomingnya dengan supernova saya iseng mengikuti saran teman - teman untuk buka blognya dewi lestari. dari situ saya akhirnya ngeblog juga.

<span class="fullpost">


    </span>

singkat cerita kendala biaya dan males ke warnet adalah alasan mengapa blog tidak lagi diurus dan friendster yang berganti dengan facebook berakhir dengan kenyataan yang sama, hanya sebatas suka - suka; evoria semata, ikut -ikutan dan sejenisnya. 2010 sepuluh kemarin keadaan berupa, saya memutuskan untuk lebih sedikit peduli dan mau terbuka terhadap perkembangan teknologi informasi yang namanya social media. berbekal baca sana - sini, buka - buka ini itu pertengahan tahun 2010 kami (saya dengan beberapa teman) meluncurkan online campign semangat Ambon Bergerak. sebenarnya model serupa bukan hal; baru tapi kini rasanya saya lebih fokus dan menganggap hal seperti ini penting.

Campign semangat Ambon Bergerak udah setahun jalan, dan berkat socmed kami terhubung dengan banyak orang yang memiliki ide dan pandangan yang sama untuk membangun melalui gerakan - gerakan via social media sehingga saling support dan memberi ide. jarak jauh yang dulu dirasa menjadi sekat untuk membatasi perkembangan kini tidak lagi menjadi soal. dengan memanfaatkan social media secara baik, koneksi yang positif akan terjaring demi untuk membentuk gerakan yang masif.

Twitter itu garis inspirasi
awalnya saya bingung mengoperasikan microbloging berikon burung ini. 140 karakter itu terlalu sedikit dan perputarannya terlalu cepat menurut saya awalnya tapi ternayata kini ywitter menjadi bagian utama di kehidupan saya untuk mengaktualisasi banyak hal. saya membaca langsung tulisan - tulisan penulis - penulis favorit saya tepat setelah jarinya menekan tombol enter, saya berinteraksi dengan orang - orang penuh semangat yang memiliki kesamaan visi dan misi dan yang teristimewa saya bisa ikut terlibat dalam banyak hal baik seperti ikut nulis cerita buat antologi cerpen untuk donasi korban merapi, ikut nulis untuk proyek2 seru lainnya, ikut gerakan campign2 lain yang searah dengan Ambon Bergerak sampai ikut terlibat membuka kelas akademi berbagi di Ambon. sebuah kekuatan baru, semangat besar yang mampu mengintegrasikan setiap pikiran dan tenaga meninggalkan batas - batas konfensional yang dulu ada.

social media adalah rumah bersama, negara tanpa batas dan mampu menusuk langsung keulu hati karena walau kita berjauhan kekuatannya terasa sejengkal dipelupuk mata kita.
---
*blog ini baru dibangun lagi untuk aktualisasi yang lebih to the max. inspiring banget gw sama orang kek @venustweets @pasarsapi @bukik dan masih banyak lagi yang menulis, berbuat baik dan saya menemukan kembali inspirasi dan keyakinan untuk lebih "berani" berbuat. Social media adalah Rumah, tempat menggalang potensi dan membangun hubungan manusia yang positif sebagai berkah alam semesta. maaf terlambat menyadari :D

KUPUKUPUNYAPERAHU

Seperti kebanyakan anak pesisir Mori selalu suka melihat burung terbang, dari camar hingga elang—dari pagi hingga malam anak laki – laki itu bercokol didermaga demi untuk menyaksikan prilaku binatang favoritnya tersebut. Mori senang melihat burung camar yang terbang bergerombol dengan konfigurasi dan maneuver – manunuver yang menawan. Mori juga senang melihat Elang yang terbang tinggi dan melebarkan sayap di cakrawala sebelum akhirnya menukik tajam dan mencengkram ikan dengan kakinya yang kuat. Kawanan burung camar adalah seperti sekelompok penari dan seekor elang adalah seperti pemburu yang bertanggung jawab bagi keluarganya. Mori merasa telah belajar banyak dari burung – burung yang ditemuinya setiap hari.

Sudah seminggu setelah pulang sekolah, Mori selalu bergegas kedermaga untuk menunggu ayah dan abangnya pulang. Sebagai keluarga keturunan pelaut yang terkenal sejak ribuan tahun lalu. Hampir semua anak laki – laki di kampungnya Mori bercita – cita kelak bisa menjadi pelaut, dilepas dengan upacara didemaga dalam satu kelompok besar baru kemudian akan berpisah untuk tujuan masing – masing. Mori juga bercita – cita menjadi pelaut, baginya para pelaut dimusim musim tangkap aklan terlihat tak ubahnya seperti ksatria yang kepergian dan kedatangannya disambut meriah. Tapi kali ini Mori tidak sekedar menunggu ayahnya pulang, ada sesuatu yang lain yang mengusik rasa ingin tahunya.

“ itu kupu – kupu namanya, serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera atau serangga bersayap sisik “ jelas abangnya.

Mori terpukau melihat jenis binatang bersayap yang hingga usianya sudah menginjak tujuh tahun baru pernah dilihatnya. Mori pernah melihat itu di pelajaran ilmu alam yang diterimanya disekolah tapi dengan melihat langsung Mori benar – benar merasa terpukau daan langsung jatuh hati.

Sore itu sebelum ayah bersama kelompoknya melaut mori menemukan binatang itu berputar – putar di sekitar perahu, sesekali berhenti lalu kemudian terbang lagi. melihat adiknya yang begitu antusias abangnya terus menjelaskan.

“ kupu – kupu itu binatang yang sangat istimewa. Kupu – kupu sering dipakai untuk banyak simbol. Konon kupu – kupu adalah simbol pembebasan, perjuangan, kesabaran, keindahan dan masih banyak lagi. kamu bisa belajar dari cerita hidup seekor kupu – kupu “

Perjumpaan pertama itu terjadi begitu cepat, ketika dermaga mulai ramai kupu – kupupun terbang pergi. Kata abangnya, kupu-kupu umumnya hidup dengan mengisap sari kembang atau nektar atau beberapa jenis lainnya menyukai cairan yang dihisap dari buah-buahan yang jatuh di tanah dan membusuk, daging bangkai, kotoran burung, dan tanah oleh sebab itu kampung Mori yang terletak disepanjang pesisir dengan temperatur yang lebih panas dan didominasi pohon kelapa yang tidak begitu sesuai dengan syarat habitat ordo Lepidoptera tersebut sehingga Moripun baru berkesempatan untuk bisa menjumpainya.

“ mungkin itu kupu – kupu gunung yang kebetulan terbawa angin terbang hingga kepesisir. Mungkin nanti kupu – kupu itu akan datang lagi kemari “ jelas abangnya lagi melihat Mori yang merasa begitu kehilangan kupu – kupu sebelum ia pergi melaut.

“ sabar yaa… ingat kupu – kupu itu simbol kesabaran “ abangnya tersenyum.

Berbekal rasa keingin tahuan yang begitu besar, Mori membaca semua buku diperpustakaan sekolahnya yang menjelaskan tentang kupu – kupu. Dari sanaa dia tahu bahwa kupu – kupu menjadi istimewa dan banyak menjadi simbol karena tahapan - tahapan hidupnya yang panjang dan menarik. Kupu – kupu adalah hasil dari proses metamorphosis yang sempurna dari telur, ulat, kepompong hingga akhirnya menjadi Kupu – kupu.

“ banyak orang yang menyukai kupu – kupu tapi tidak sedikit juga orang yang jijik dengan ulat dan kepompong padahal kesemuanya ada dalam satu proses. Manusia harus belajar dari perjalanan hidup kupu – kupu “
Dari guru Ilmu Alamnya Mori lebih mengerti jelas tentang maksud kesabaran yang bisa dipelajari Kupu – kupu, dari sesuatu yang tidak dianggap kemudian bisa menjadi begitu dikaagumi dan dicintai. Menurut Mori, bila kupu – kupu itu tidak sabar pasti dia akan kalah saat masih menjadi telur, ulat aataau kepompong sebelum akhirnya menjadi kupu – kupu karena dianggap tidak menarik, sesebaran dibutuhkan untuk melewati sebuah proses.

Hari sudah hampir malam, semua pelaut sudah kembali termasuk ayah dan abangnya tapi mori tidak juga beranjak dari dermaga, dia masih menantikan kupu – kupu. Tiba – tiba dalam satu kerjapan mata, kupu – kupu yang dinantikannya datang dan berputar melingkarinya sebelum kemudian terbang menuju lalanan[1] untuk bermain – main didalam perahu.
Mori tersenyum. Didalam hatinya Mori berkeinginan sungguh menjadi pelaut hebat yang mengamalkan nilai - nilai kesabaran seperti yang dipelajarinya dari proses hidup kupu – kupu. Mori ingin menanamkan kesabaran tersebut untuk terus belajar dan menjadikanya menawan ketika dewasa nanti.
“ kupu – kupuku punya perahu, aku berlayar “ desisnya.
—
Ambon, 24 Februari 2011 – 3.45am
Follow me on twitter @iphankdewe
(cerita dikirimkan untuk program #faya Indonesia Bercerita @IDcerita)

[1] Lalanan adalah tempat perahu – perahu dilabuhkan yang terbuat dari bambu. Berfungsi serupa garasi dan terletak dipesisir. ( berasal dari bahasa daerah masyarakaat Maluku di jazirah Leihitu – Maluku tengah )

Aku Mencintaimu Dalam. Biar !

Biarkan aku terbangun saat kamu masih terpejam.
Biarkan aku berkata - kata sesukaku tanpa perlu harus kamu dengarkan.
Biar aku merasa cukup dengan mencintaimu dan berada di sisimu
Biar aku mengucap selamat setiap saat seperti pagi yang tidak pernah ingkar janji

Malam - malam kita panjang
Sepanjang jalan yang luar biasa dan kini menjadi biasa
Dimatamu kulihat surga
Dihatimu kutemukan

Biar aku menjadi ada tanpa sedikitpun prasangka untuk menjadi tiada
Biar aku mengucap selamat padamu
Biar aku menceritakan sore langsung di daun telingamu
Biar aku mencintamu dengan atau tanpa jarak sekalipun
Biar aku menyakini diriku tanpa harus ada pertanyaan lagi sesudahnya

Seharian sudah kita bersama
Berdua nenyusuri pesisir sambil tak henti - henti menjaring matahari
Berhari - hari sudah kita bersama
Masuk ke hutan, mendaki bukit dan menyelami palung - palung dalam lautan
Biar aku bersamamu, hanya denganmu tanpa perlu mengemukakan syarat.

Biar aku. Aku hanya ingin biar. Biar aku mencintai cintaku dengan cinta yang sama kuberikan padamu. Tanpa syarat kecuali bila ada adalah syaratmu
Biar aku mencintaimu dalam biar.
—-
Amplaz 03 April 2011 - 21.00 WIT

JUJUR ITU....

ini adalah sesuatu yang mengganggu dan sungguh harus diceritakan.

setiap malam ketika pulang di lampu merah saya selalu menemukan kesan yang sama terhadap para pengendara kendaraan bermotor yang menerobos lampu merah. mereka menerobos lampu merah ketika orang lain berusaha berhenti dan mencoba menaati aturan. sederhana, pos polantas selalu kosong ketika larut malam sehingga dengan leluasa setiap orang mampu menentukan sikap untuk patuh atau tidak terhadap perintah lampu tiga warna tersebut, kevakuman hukum terjadi. tapi apakah kemudian sederhana dengan bersikap bahwa aturan hanya bisa dipatuhi ketika para penegak hukum berdiri dijalan dan memberi sanksi  ketika kita melakukan kesalahan, saya pikir tidak.

kemarin malam sekitar pukul 23.00 WIT saya berhenti disebuah Traffic light ketika lampu berwarna merah. seorang perempuan memberi pertimbangan untuk laki - laki yang menurut saya adalah suaminya " jangan. tunggu saja lampunya hijau ". aku tersenyum dan perempuan itupun balas tersenyum " jujur itu dimulai dari hal - hal kecil " kata saya dan keduanya tersenyum.

yaa, jujur dimulai dari hal - hal kecil. laki - laki yang menggonceng perempuan tadi pasti merasa gusar atau malah mungkin lebih parahnya lagi merasa bodoh ketika pengendara kendaraan lain melaju tanpa tahu malu sedang dirinya sedang mencoba menaati peraturan sehingga ingin memutuskan menyudahi saja ketaatannya. tiang lampu tiga warna itu memang benda mati namun dalam pengertian yang sederhana benda mati tersebut mengandung makna perintah yang sangat jelas dan bukan untuk benda itu sebenarnya kita patuh tapi untuk diri kita sendiri karena sungguh ada kebaikan yang harusnya bisa kita terima disana.

jujur dimulai dari hal - hal kecil dan bila karena faktor lain kita menuruti aturan ityu artinya kita tidak mampu bersikap jujur. siap - siaplah kehancuran manusia. :).

traffic_light


This is my story : BUDAYAWAN DARI TIMUR

Saya adalah anak yang besar dalam situasi konflik kemanusiaan yang menimpa Maluku di tahun 1999. Cerita tersebut tidak perlu dijabarkan karena banyak data otentik yang mampu menjelaskan dengan rinci betapa hancurnya peradaban karena peristiwa tersebut. Mimpi dan cita – cita saya berlatar dari situasi tersebut, saya ingin menjadi budayawan—aktivis sosial yang bergerak dibidang pendidikan dan penguatan nilai – nilai budaya masyarakat.

Pasca konflik terjadi, tata rekonsiliasi menurut saya dicapai melalui jalur pendidikan dan budaya maka kedua bagian itu menjadi penting bagi saya. Dalam proses rekonsiliasi kegiatan di bidang pendidikan dan budaya yang dilakukan oleh berbagai pihak khususnya generasi muda. Sejak tahun 2003 saya bersama beberapa teman mulai berupaya membuka isolasi dengan mengadakan kegiatan – kegiatan dibidang pendidikan dan budaya, sering kali saya menjadi pekerja didalamnya sekaligus peserta karena masih berstatus pelajar saat itu. Waktu berjalan dan saat ini Maluku telah kondusif dan kami tetap melaksanakan kegiatan – kegiatan yang sama. Saat ini berbekal pengetahuan seadanya mengenai sosial media kami sedang menjalankan sebuah online campign dengan nama ambon bergerak, sebuah gerakan semangat yang mengusung kreatifitas dan budaya dari timur untuk Indonesia yang lebih baik. Selain itu kini kami juga menjalankan sebuah rumah budaya dengan nama Rumah Beta bersama kak Glenn Fredly serta menjalankan kelas Akademi Berbagi di Ambon selain tentunya tetap melaksanakan kegiatan – kegiatan lain untuk mendukung pengembangan genaarsi muda seperti misalnya melakukan kerja sama untuk belajar bahasa inggris di EF (www.englishfirst.co.id ) melihat betapa pentingnya hal tersebut di era globalisasi dewasa ini.

Being a cultural observer is to being a high taste human being and to be usefull for people. Me and my friends has a dream for ambon as a culutral cities and a center of world tourism. For that we are setting a young movement campaign and make a move. We hope that all of indonesian young people doing the same thing . imagine how indonesia would be.

:)

IDY.PIC
selalu ada rindu untuk #kamu
     to: adaraldila :)

Untuk Ira Dewi Yanti


pinjem gambarnya yaa ira :)

“ Kamu akan segera menikah ? “
“ Dari mana kamu tahu ? “
“ Kamu akan  segera menikah ? “ perempuan itu mengulang kembli pertanyaannya dengan datar dan pura – pura menyembunyikan tekanan
“ iya “ si laki – laki mengangguk “ Aku akan segera menikah “
---
Sudah sepuluh orang diajaknya mabuk tapi semuanya menolak, bukan karena tidak ingin tapi karena merasa aneh  bila harus mabuk dengannya. Dia terlalu kecil dengan catatan yang “terlalu” baik untuk berakhir dimeja bar. Diliriknya laki – laki yang sudah setengah jam dipunggunginya. Dibatinnya ingin sekali rasanya dia marah dengan dirinya sendiri, ingin sekali rasanya dia mengumpat karena belum juga bisa berkata cukup atas apa yang dimilikinya. Laki – laki yang dipunggunginya itu hanya berbalut jaket dan celana tidur, dia nampak sangat cemas  hingga membuatnya terburu – buru keluar seadanya.
Dirinya membatin lagi, mengapa bukan laki – laki yang dipunggungi saja yang diajaknya mabuk—bukankah bila mabuk dengannya seperti apapun habisnya akan lebih baik karena “dia” adalah pacarnya. Laki – laki itu tersenyum dan menyodorkan gelas, bukan bir tapi air putih. Dibukanya kantong berisi beberapa butir obat, bukan obat penenang tapi obat penurun panas. Laki – laki tahu dia sakit demam, bukan sakit hati.
---
“ di hidup ini akan selalu ada yang bisa kita miliki tapi sebaliknya juga selalu ada yang tidak akan pernanh kita miliki. Masa lalu biar menjadi masa lalu yang hanya harus cukup dengan dikenangkan dimasa depan karena turut serta membawanya dimasa depan hanya hanya akan memberatkan langkah bila tidak lagi bisa kita miliki seperti yang terjadi dimasa lalu. Masa lalupun pada akhirnya akan dan berhak memiliki masa depan maka dari itu bila waktunya tiba kita hanya harus ikhlas menerima. “
“ aku sudah memberi selamat untuknya. Aku rasa aku ikhlas “
“ yaa… kamu harus ikhlas, bukan rela “ laki – laki itu tersenyum
“ maaf. Aku ralat. Aku rela, belum ikhlas. “
“ okay… menurutku juga harusnya demikian “ laki – laki itu tersenyum lagi 
“ dengan memberi selamat aku pikir cukup. setelah ini jangan pernah mengusik atau merasa terusik atas apapun, kamu juga tidak sedang sendirian—syukuri laki – lakimu yang sekarang sebagai sebaik – baiknya pilihan dihidupmu maka dengan begitu kamu akan mampu bersikap ikhlas. Bersyukur itu awal dari keikhlasan dihidup manusia, kamu harus yakin itu.“

\(‘∆’)/
---
Ambon 24 Februari 2011 – 11.05. 
*untuk Ira dan BBM singkatnya. :)

MERAH


Aku ingin bersama para pengamen yang memainkan lagu America, The Beautiful ditepian sungai Neva
Pada sore yang terbungkus udara basah kota St. Petersburg
Baju mereka kumuh, tipis dan telalu biasa untuk betahan dalam cuaca dingin
Tapi mereka sudah disitu, datang dari rumah - rumah sekitar untuk menghabiskan waktu tanpa perayaan.

Aku ingin berdiri di lapangan merah kota Moskow untuk memperingati hikmat revolusi oktober
Meski siapapun sendirian tanpa siapapun
Meski tanpa pemimpin yang berdiri di pentas batu pualam merah yang didirikan diatas mauseleum Lenin
Meski juga tanpa semboyan - semboyan membahana tentang masyarakat tanpa kelas.

Konon orang - orang dikiri jalan sudah mati atau mungkin bagiku sengaja dimatikan atau mungkin sebagaian kecilnya begitu lalu sebagian besarnya berpindah kekanan
Kemakmuran dan kesejahteraan adalah utopis. Tak lebih dari sekedar slogan para birokrat untuk meniduri hak pemegang asli kedaulatan
Maka setiap hari adalah perjuangan
Entah untuk mereka yang bersujud di altar gereja atau untuk mereka yang berlari - lari dijalan sambil tidak takut berteriak merdeka

Tiap masa datang dengan mimpi
Masa baru juga datang dengan mimpi baru
Maka tidak ada yang salah untuk mereka yang senantiasa percaya mimpi
Walau hari ini merah dan besok menjadi putih
Walau hari ini hijau dan besok menjadi kuning
Perang kekuasaan masih akan terus sama

Aku ingin ada disana
Sendirian saja mengukur cerita - cerita para pemimpin perjuangan sipil menuju cita - cita yang diimpikan
Entah mereka yang berseragam atau hanya bersarung, palu dan arit
Entah mereka yang ditembak mati dilapangan banteng atau kini tua dan tak lagi bisa melihat Aurora yang tak lebih dari museum prasejarah. Satu tembakan peluru kosong meriam itu telah menandai lahirnya sejarah manusia
Dan kita disini sudah lupa tentang mereka - mereka yang terbuang, yang kalah tapi percayalah tidak pernah menyerah bahkan sampai ketika mereka mati dan tanpa pelayat

Aku ingin disana. Disimpang kiri dan melihat kekanan
Sambil terus belajar untuk bagaimana caranya menyebrang dan melawan
Tanpa harus hanyut dan mati tenggelam
Aku ingin disana, belajar kalah dan maklum bahwa hidup memang adalah pertarungan maka belajar dari sakit adalah baik
Ada yang bilang kegagalan manusia dalam berjuang menandakan kebesaran manusia yang sesungguhnya sebagai seorang manusia. Aku percaya.

Maka aku ingin berada disana
Dengan sakit untuk menjadi nilai
Dengan merah untuk mati dengan putih.
—-
Ambon, 25 Februari 2011 - 12.47am

kepada angkatan pendiri : Jejek - jejak merdeka

Temui aku di kampus
Diantara dudukku yang berhimpitan dengan gelas - gelas sisa minuman
Diantara ruang gerak yang senantiasa luas walau kita lebih sering berkerumun
Dikampus aku merasa tiada jarak, tiada batas

Temui aku di kampus setelah kuliah selesai
Setelah kampus sepi
Dimana suara - suara kita yang bergema tidak pernah menghadiahi sunyi
Dikampus aku merasa tidak ada mati - mati

Dibawah rindang pohon gombel
Nyanyian serasa merdu selalu mengundung rindu
Aku memberi senyum, kau berbalas tersenyum centil
Sapaan mesra yang tak pernah jemu ” hi kawan… Apa kabar bangsamu hari ini ? Aku sedih “

Pagi ini matahari bersinar malu - malu
Aku merasa tertipu dengan waktu
Kamu dan semua sudah pergi
Jaman memang harus berganti, masa bersama memang harus selesai
Dalam dingin wajah - wajah baru kutitip pesan: sampai kita berjumpa nanti.
—-
Ambon, 23 Februari 2011 - 11.20am (Gombel, kampus poka - Universitas Pattimura)
(kepada seorang kawan satu angkatan  O.Z.S Tihurua)

surat seorang teman korban konflik tentang belajar dari perbedaan



Ini adalah satu dari sekian surat yang dikirimkan seorang teman untuk untuk saya. Beberapa bulan sekali, 5 tahunan yang lalu saya selalu dikirimi surat oleh seorang teman kecil yang akhirnya diefakuasi pindah ke bau – bau Sulawesi tenggara setelah kehilangan kediaman, harta benda, keluargaa dan terlebih kedua orang tuanya saat konflik kemanusian yang terjadi satu dekade silam di Maluku. Teman saya tersebut selalu mengirimi surat yang isinya kurang lebih selalu sama, dia selalu bercerita tentang sakit, duka dan kesedihan yang dialaminya. Dia selalu meminta sayaa membaca surat – surat yang dikirimkannya dipusara kedua orang tuanya.

“ …luka itu perih. Menyayat sungguh karena kita memang tak tahu apa – apa. Tiba – tiba rumah dibakar, bapak dan ibu dibunuh dan saya dilarikan polisi ketempat pengunsiaan tanpa seorangpun yang saya kenal. Untuk siapa saya menangis saat itu sedang orang – orang, anak – anak dikiri dan kanan saya juga menangis. Rumah mereka dibakar, orang tua mereka mungkin juga mati dan atas nama perbedaan kita harus bisa bilang maklum dan berhenti menangis saat itu. “
---

Lama saya tidak dikirimi surat oleh teman kecil saya itu. Mungkin dia sudah lupa tapi saya lebih percaya bahwa dia sedang belajar menerima. Sudaah lima tahun dia menjadi pengungsi, beranjak dewasa dengan hidup yang dalam tebakan saya belum sepenuhnya jelas. Datang sebuah surat beberapa minggu lalu dan saya lega untuk bisa tersenyum karena tebakan saya terbantahkan. Teman saya itu sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir dan aktif menjadi aktifis kemanusiaan. Ini suratnya setelah tidak lagi mengirimkan saya suar kurang lebih 4 tahun.

Kawan, apa kabar ?
Langit hitam sudah tersapu meski duka masih terlalu sering datang. Mungkin duka memang akan selalu milik kita, seperti layaknya kita bersuka cita menerima kebahagia, dukapun harus kita perlakukan dengan cara yang sama. Saya harap kamu masih sering zIarah ke kubur orang tua saya, terima kasih untuk itu. Mungkin tahun ini saya akan pulang lagi ke Ambon, setidaknya untuk mengunjungi pusara orang tua saya.

Sebentar lagi saya jadi sarjana hukum, belakangan saya aktif di salah satu LSM yang bergerak untuk kemanusiaan. Hidup mengajarkan kita banyak hal, termasuk apa – apa yang sudah kita yakini sebagai keyakinan masa kecilpun senantiasa ternyata harus diuji dengan peristiwa. Saya percaya, lebih dari itu saya yakin bahwa peristiwa yang terjadi dalam hidup setiap manusia sudah digarisskan dan mengandung makna untuk hidup masing – masing manusia.

Dulu orang bunuh – bunuhan atas nama agama, padahal sebelumnya kita hidup berdampingan, apa kita memang mau saling bunuh – bunuhan ? saya tidak yakin, saya lebih yakin bahwa ayah saya orang baaik yang selalu bertegur sapa dengan siapa saja dan ibu saya juga adalah orang baik yang senantiasa membagi makanan yang dimasaknya dengan para tetangga. Perbedaan dijadikan alasan, konflik dijadikan alat dan kepentingan sekelompok orang menjadi halal untuk untuk diloloskan dengan merampas hak hidup-kedamaian orang lain

Ada satu bagian penting yang harus dijadikan pelajaran, bahwa peristiwa konflik yang terjadi atas nama perbedaan adalah benteng baru sejarah peradaban manusia masa datang, kita pernah jatuh, kita pernah sakit dan menringis kesakitan maka yang terbaik adalah sadar sungguh bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan karena perbedaan sejatinya adalah ciptaan tuhan yang maha esa.
Saya sudah ikhlas kawan, semua terjadi untuk dipahami-dipelajari sebagai pegangan hidup. Jangan lupaa ke gereja kawan, saya selalu mendoakanmu dan keluargamu dalam setiap sujudku siang dan malam.

Salam
Kawan, saudara

---
Perbedaan adalah fitrah, bersifat hak dan hakiki sebagai keyakjinan personal maka kita tidak akan pernah bisa “layak’ untuk menjadikannya alasan untuk saling “menyakiti”. kita hanya perlu hidup berserah dengan berjalan setiap harinya hingga tiba lagi matahari pagi dan hidup akan lebih baik dengan belajar menerima.

Tentang Pembebasan Bangsa


Air mata sudah jatuh, sudah kering
Semua orang sudah menangis
Yang tersisa kini adalah nada amarah yang tinggi melengking
Semua orang sudah menciumi amis

Masih manusiakah kita
Bila keyakinan yang tempatnya dibatin tiap manusia sudah bisa diusik manusia lain
Masih bertuhankan kita
Bila agama yang adalah jembatan menuju keselamatan sudah dirusak karena menjadi alat untuk menyakiti orang lain

Bulan sudah jatuh kemarin
Kemarin – kemarin juga orang – orang sudah kembali masuk gua dan menyalakan lilin – lilin kembali
Pesta langit dalam senja kala seperti kata penyair sudah tiada lagi
Hanya kabut – kabut hitam tebal yang menyelubungi, membungkus bau tanah yang menguap bersama darah segar yang tertumpah kemarin

Ini bukan tentang peristiwa ada yang mati
Sebab kematian adalah fitrah layaknya kelahiran dan rejeki
Ini syair tentang kecemasan yang keluar dari dalam hati
Tentang kematian yang kini lebih sering terdengar sebagai momok berita tragedy

Coba dengar
Ini doa seorang anak dipusara bapaknya
Yaa Tuhan… berkatilah orang tuaku disisimu, konon dia mati karena membela keyakinannya atas namamu
Coba dengar
Ini doa seorang Istri dalam sujud untuk keluarganya
Yaa tuhan… selamatkan suami dan anak – anakku dijalan yang engkau ridhoi, konon mereka sedang berjuang menegakan panji – panji atas namamu.

Lalu coba dengar juga
Ini doa para penjilat yang rakus menjilati selangkangan kekuasaan setelah selesai menyebut nama tuhan
Tuhan… ini aku tuhan. Ini aku, jadikanlah aku tuhan – tuhan kecil yang kuasanya jauh lebih nyata dari kuasamu
Mereka keparat, mereka memang selalu bahagia dan merasa cukup dengan terbahak bahak “ha ha ha “. Celaka keparat bagsat

Atas nama bangsa
Atas nama orang – orang yang bersaksi ditengah gunjangan peradaban dan menjadi kuat
Mari bersuara lantang
Bangsa…
Kita bernegara untuk bisa dilindungi, tapi kalau tidak untuk apa ?
Bangsa…
Kita musti berhenti berharap banyak bila ternyata kita diperlakukan tidak lebih dari ayam sabung yang dilepas lalu disoraki

kedamaian ada dihati
Harta berharga untuk menjaga laut, menjaga gunung, bukit – bukit juga pantai – pantai
Kedamaian ada didiri
Sebuah alasan untuk bersikukuh demi menjaga anak – anak negeri, generasi – generasi baru agar mata hatinya tidak buta, tidak mati

Titip salam untuk yang mulai dari sini
Keadilan adalah satu – satunya alasan kami menyatu sebagai satu kesatuan
Titip kasih dan sayang diseantero negeri
Jangan pernah mau mati sebagai tumbal politik atau bahkan atas nama takhayul kekuasaan

Satu hati, satu ingin
Mari kita angkat sumpah
Bila sakit bisa menyatukan kita, nikmati bersama demi kematian yang mulia
Bahwa karna hidup adalah perjuangan, maka kita akan harus selalu siap berdarah demi bisa bertemu hari esok
Selamat berjuangan demi keyakinan yang manis. Yakin saja Indonesia harus damai, yang tidak damai ijin kita bikin mati. Titik.

---
Ambon 8 Februari 2011
(dibacakan dalam aksi budaya menentang kekerasan “ suara damai dari timur untuk Indonesia “ di Monumen Perdamaian dunia – Ambon, Maluku)

Sebuah Cerita dari Rumah Beta : Malam pertama yang manis untuk perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Ombak yang pecah ditembok pantai amahusu terasa manis sudah ketika bung Nicky Manuputty menghantarkan My Story ke telinga semua orang yang datang  dan membuka perjumpaan Rumah Beta malam ini. ini adalah malam pertama, kali pertama Rumah Beta: sebuah komunitas seni yang dipelopori Bung dibuka secara resmi untuk siapa saja yang mau menjadikan seni, budaya dan kreatifitas sebagai alat untuk terus bergerak melakukan hal - hal positif.

Rumah Beta adalah sebuah konsep, sebuah impian akan lahirnya sebuah wadah sebagai satu dari sekian solusi untuk menjawab segala keterbatasan yang ada di daerah.Bung Glenn adalah musisi yang berasal dari Ambon - Maluku sehingga Rumah Beta lahir Di Ambon dengan sebuah harapan sederhana untuk bisa menginspirasi banyak orang lain yang ada didaerah bahwa ternyata untuk menjawab segala keterbatasan yang ada didaerah, kita hanya harus berbuat. berhenti berbicara dan mulai terus melakukan hal - hal positif dengan memanfaatkan potensi daerah tersebut untuk menjadi terdepan. anak muda dan kreatifitas adalah salah satu potensi yang pasti dimiliki sehingga harus diwadahi.

Membuka lembaran Rumah Beta, Bung Nicky Manuputty seorang musisi saxophone asal Maluku yang lahir dan besar di Belanda dan sekarang sedang mempersiapkan Albumnya di daulat untuk menjadi pembuka. bersama tiga musisi lainnya, hadir pula penyanyi muda Matthew Sayersz yang eksis bersama BLP dan sedang mempersiapkan album solonya. malam menjadi manis dalam balutan kasih dan doa serta harapan untuk terus melakukan hal - hal positif untuk membangun generasi.

Perjumpaan dirumah beta malam ini bukan hanya sebuah pertunjukan musik biasa tapi lebih dari sekedar itu semua musisi yang hadir membagi cerita tentang bagaimana hingga mereka bisa menjadi musisi seperti sekarang. Bung Nicky bilang, lima tahun lalu beliau memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan menetap di Jakarta. tanpa banyak kenalan beliau berproses dan optimis bisa terus berkarya. sebuah semangat yang memang harus ditularkan. bung Matthew pun mengatakan hal yang sama bahwa musik baginya adalah sebuah pilihan hidup dan mengapa akhirnya dia memilih musik adalah karena musik baginya adalah sesuatu yang selalu jujur. sangat jujur lebih tepatnya.
.
Dalam balutan musik yang manis dan suasana kekeluargaan yang hangat, Rumah Beta memberi sebuah nuansa yang sangat istimewa untuk sebuah momentum perubahan dari akar paling bawah yaitu masyarakat. polarisasi hanya bisa berkomentar dan mengkritisi tanpa ada realisasi aksi untuk memnawab permasalah seperti pelan - pelan terpangkas. dalam sebuah pesan bung Glen bilang ini adalah langkah kecil yang baik untuk sesuatu yang lebih besar lagi akhirnya.

Rumah Beta akan terus  menyelenggarakan kegiatan kesenian secara berkelanjutan sebagai bagian dari campign semangat Ambon Bergerak yang dipelopori berbagai komunitas kreatifitas orang muda di Ambon. sebuah catatan penting malam ini adalah ternyata kita hanya harus bergerak melakukan segala hal positif untuk menjawab segala kekurangan yang ada. berhenti menunggu dan jadilah kekuatan bersama yang kuat untuk merubah segala hal yang tidak sesuai. saatnya orang muda berteriak lantang tentang perubahan dan kendaraannya sederhana; semangat, mimpi dan harapan untuk bisa lebih baik dari hari ini.

Malam pertama di Rumah Beta berakhir. sampai jumpa dimalam - malam selanjutnya.
foto - foto kegiatanya akan segera diposting, sekian sebuah cerita kecil malam ini.

Sebarkan terus semangat positif untuk mebangun kembali peradaban manusia yang mulai rusak karena hal - hal negatif seperti kekerasan dan lain sebagainya. salam dari timur.

dari Timur Indonesia, Ambon Bergerak. Mari kita bergerak bersama menuju Indonesia yang lebih baik. Amin.